BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Sejarah Tanaman Mangga dan Karakteristik Mangga Gedong Gincu dan Rambutan
1.1.1
Sejarah
Tanaman Mangga dan Rambutan
Mangga berasal
dari Malayalam maanga. Kata ini dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga dan pada
pihak lain, kata ini dibawa ke Eropa oleh orang – orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lain – lain.
Nama ilmiahnya sendiri mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal
dari India”. Berasal dari sekitar perbatasan India
dengan Burma, mangga telah menyebar ke
Asia
Tenggara sekurangnya semenjak 1.500 tahun silam. Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah,
seperti pelem atau poh. Sedangkan rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah
hortikultural berupa pohon dengan famili Sapindacaeae. Tanaman
buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Rambutan berasal dari
Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luas di daerah yang
beriklim tropis seperti Filipina dan negara - negara
Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub - tropis.
1.1.2
Karakteristik Mangga
Gedong Gincu
Mangga adalah salah satu jenis tanaman yang sangat populer
di Indonesia.
Rasa buahnya yang manis membuat buah ini menjadi primadona dan disukai oleh
hampir seluruh masyarakat. Tanaman yang termasuk kedalam marga Mangifera diduga berasal dari wilayah
India yang kemudian meyebar ke wilayah asia tenggara tarmasuk ke wilayah
Indonesia dan Malaysia. Adapun mangga yang tumbuh di Indonesia termasuk kedalam
jenis Mangifera indica L, seperti
mangga golek, manalagi, arum manis, gedong dan jenis Mangifera foetita yaitu kweni dan kemang.
Mangga Gedong
Gincu berasal dari daerah cirebon, bentuknya unik, warna kulit serta daging
buahnya kuning kemerahan dan tampak mencolok, kulit tipis, bentuk bulat tanpa
lekukan, daging tebal dan berserat halus rasanya manis dan aromanya harum.
Karena warnanya, mangga Gedong Gincu cukup laku di pasaran luar negeri. Ukuran buahnya
tergolong sedang, panjangnya antara 10 – 12 cm dan berat rata - rata 200
g/buah. Mangga Gedong Gincu yang matang dapat tahan selama 5 – 7 hari dalam
masa penyimpanan.
Warna mangga Gedong Gincu akan semakin sempurna daya
tariknya ketika sudah masuk dalam fase matang sempurna, warna kuning kemerahan
layaknya warna gincu. Membiarkan mangga Gedong Gincu matang secara alami di
pohonnya, membuat rasa manis yang dikandung dan warna yang memikat dari buah
ini semakin menunjukan ke cantikannya.
Mangga Gedong
mempunyai kelebihan dibandingkan jenis mangga lainnya yaitu dapat dipanen dalam
dua bentuk, pertama bentuk Gedong (tingkat kematangan 60 persen) dan Gedong
Gincu (tingkat kematangan di atas 70 persen), dengan perbedaan waktu panen
antara 10 sampai 15 hari. Gedong Gincu saat ini mempunyai peluang pasar cukup
besar baik pasar domestik maupun pasar ekspor karena buahnya mempunyai aroma
sangat tajam, warna buah merah menyala dan mengandung banyak serat.
Karakteristik
yang melekat pada mangga Gedong Gincu adalah produk tersebut umumnya bersifat mudah
membusuk dan sulit diangkut dalam jarak jauh dengan tanpa menimbulkan kerusakan
dan susut yang besar. Rendahnya kualitas buah mangga tersebut antara lain
disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal buah mangga yang
mendapat perlakuan kurang cermat selama proses pasca panen. Faktor eksternal
antara lain goncangan selama proses transportasi sehingga akan menyababkan buah
tersebut memar. Memar merupakan gejala kerusakan buah akibat getaran dan guncangan
yang dialami buah selama transportasi. Memar juga disebabkan gesekan antar buah
maupun gesekan buah dengan dinding kemasan yang berlangsung selama proses
transportasi. Memar akan segera diikuti dengan pembusukan sehingga buah menjadi
tidak layak jual.
Faktor internal
antara lain laju respirasi dan produksi etilen, dimana buah mangga gedong gincu
termasuk dalam buah klimakterik. Gedong Gincu adalah jenis buah mangga yang banyak
digemari saat ini. Mangga Gedong Gincu yang mendapat respon positif baik di kalangan domestik maupun internasional, bahkan mangga Gedong Gincu telah
menjadi andalan komoditas ekspor buah Indonesia khususnya di daerah Cirebon.
1.1.3
Karakteristik Rambutan
Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku
lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah
kepulauan di Asia Tenggara. Kata
"rambutan" berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit
menyerupai rambut.
Pohon hijau abadi,
menyukai suhu tropika hangat (suhu rata-rata 25 derajat Celsius), tinggi dapat
mencapai 8 m namun biasanya tajuknya melebar hingga jari-jari 4 m. Daun
majemuk menyirip dengan anak daun 5 hingga 9, berbentuk bulat telur, dengan
variasi tergantung umur, posisi pada pohon, dan ras lokal.
Pertumbuhan rambutan dipengaruhi oleh ketersediaan air.
Setelah masa berbuah selesai, pohon rambutan akan merona (flushing)
menghasilkan cabang dan daun baru. Tahap ini sangat jelas teramati dengan warna
pohon yang hijau muda karena didominasi oleh daun muda. Pertumbuhan ini akan
berhenti ketika ketersediaan air terbatas dan tumbuhan beristirahat tumbuh.
Tumbuhan ini menghasilkan bunga setelah tujuh
tahun jika ditanam dari biji, namun pada usia 2 tahun sudah dapat berbunga jika
diperbanyak secara vegetatif. Bunga buah rambutan berumah dua, tetapi bersifat androdioecious,
ada tumbuhan penghasil bunga jantan saja dan tumbuhan penghasil bunga banci. Tumbuhan
jantan tidak pernah menghasilkan buah.
Pembungaan rambutan dipengaruhi oleh musim atau ketersediaan
air. Masa kering tiga bulan menghentikan pertumbuhan vegetatif
dan merangsang pembentukan bunga. Di daerah Sumatera bagian
utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan
buah dua kali dalam setahun. Di tempat lain, bunga muncul
biasanya setelah masa kering 3 bulan (di Jawa dan Kalimantan biasanya pada
bulan Oktober dan November).
Bunga majemuk, tersusun dalam karangan, dengan ukuran satuan
bunga berdiameter 5 mm atau bahkan lebih kecil. Bunga jantan tidak
menghasilkan putik. Tumbuhan
banci yang baru berbunga biasanya menghasilkan bunga jantan, baru kemudian
diikuti dengan bunga dengan alat betina (putik). Bunga
banci (hermafrodit) memiliki benang
sari yang fungsional dan memiliki dua bakal buah, meskipun jika terjadi pembuahan hanya satu yang biasanya
berkembang hingga matang, sementara yang lainnya tereduksi. Penyerbukan
dilakukan oleh berbagai jenis lebah, namun yang
paling sering hadir adalah Trigona, lebah kecil tanpa sengat
berukuran sebesar lalat. Di
berbagai apiari, bunga rambutan
juga menjadi sumber utama nektar bagi lebah
peliharaan.
Buah rambutan terbungkus oleh kulit yang memiliki
"rambut" di bagian luarnya (eksokarp). Warnanya hijau
ketika masih muda, lalu berangsur kuning hingga merah ketika masak/ranum. Endokarp berwarna
putih, menutupi "daging". Bagian buah yang dimakan,
"daging buah", sebenarnya adalah salut biji atau aril, yang bisa
melekat kuat pada kulit terluar biji atau lepas ("rambutan ace"/ngelotok).
Pohon dengan buah masak sangat menarik perhatian karena
biasanya rambutan sangat banyak menghasilkan buah. Jika pertumbuhan
musiman, buah masak pada bulan Desember hingga Maret, dikenal sebagai
"musim rambutan". Masanya biasanya bersamaan dengan buah musiman
lain, seperti durian dan mangga.
Varietas unggul rambutan yang
sudah dilepas Departemen
Pertanian Republik Indonesia hingga 2005 adalah:
1. 'Rapiah' dari Pasar minggu.
2. 'Bahrang' dari Langkat,
3. 'Lebak
bulus' dari Pasar minggu,
4. 'Sibatuk Ganal' dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan,
5. 'Nona' dari Kampar, Riau,
6. 'Binjai' dari Pasar minggu
7. 'Antalagi' dari Sungai Andai,
Kalimantan Selatan,
8. 'Sibongkok' dari Sungai
Luhut, Kalimantan Selatan,
9. 'Garuda' dari Sungai
Andai, Kalimantan Selatan
10. 'Tangkue Lebak' dari
Kecamatan Maja, Banten,
11. 'Narmada' dari NTB
1.2 Konsep Pemasaran
Menurut Kotler 2009 strategi pemasaran adalah mendefinisikan misi, tujuan
pemasaran dan keuangan, serta kelompok dan kebutuhan yang ingin dipuaskan oleh
penawaran pasar. Pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia
dan sosial (Kotler 2009) sedangkan penjualan hanya
merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang lebih berorientasi kepada
peningkatan volume penjualan yang maksimal.
Kata strategi
berasal dari bahasa Yunani yaitu
strategos. Strategos terbentuk
dari kata stratos yang berarti militer dan –ag yang berarti memimpin. Dengan
demikian strategi berarti memimpin dalam (dunia) militer. Menurut kamus besar
bahasa Indonesia terbitan tahun 1991 menyatakan strategi sebagai dan seni
menggunakan sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam
perang dan damai. Kedua definisi ini membuktikan bahwa konsep dan teori tentang
strategi banyak diadaptasi dari strategi militer. Konsep strategi dapat
didefinisikan berdasarkan dua perfektif yang berbeda, yaitu (1) perfektif apa yang
suatu organisasi ingin lakukan (intends to) dan (2) perfektif apa yang
organisasi akhirnya lakukan (aventually does).
Berdasarkan
perfektif pertama, strategi didefinisikan sebagai program untuk menentukan dan
mencapai tujuan organisasi serta mengimplementasikan misinya. Sedangkan
perfektif kedua, strategi didefinisikan sebagai pola tanggapan atau respon organisasi terhadap
lingkungannya sepanjang waktu (Stoner, Freeman dan Gilbert, Jr dalam Tjiptono
2001).
Definisi lain di
ungkap oleh Robinson (1997) yang dikutip dalam Yoshida (2006) yang menyebutkan
bahwa strategi merupakan pola keputusan alokasi sumber daya yang dibuat di dalam organisasi. Pola
keputusan ini menyatakan tentang tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pada
kepercayaan tentang hal-hal dapat diterima dan yang harus dihindari untuk
mencapai tujuan tersebut. Strategi dirancang untuk memastikan tujuan utama organisasi dapat
dicapai melalui implementasi yang tepat oleh organisasi itu sendiri.
Sedangkan menurut
pakar ahli strategi Hamel dan Prahalad yang dikutip Umar (2000) menyatakan
bahwa strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat)
dan terus-menerus serta
dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para
pelanggan dimasa depan. Dengan demikian strategi hampir selalu dimulai dari apa
yang dapat terjadi bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan
inovasi yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan
kompetensi inti. Perlu mencari kompetensi inti ini didalam bisnis yang dilakukan.
Menurut Hax dan Majluf dalam Yoshida (2006)
menyatakan strategi organisasi yang komprehensif memiliki ciri-ciri sebagai
berikut. Strategi bersifat koheren, menyatu dan menunjukkan pola keputusan integratif.
Kedua, strategi menentukan dan menyatukan secara tersurat arah terutama dalam
hal tujuan jangka panjang, program-program kegiatan dilakukan dan prioritas
alokasi sumber daya. Ketiga, strategi digunakan memilih bisnis apa yang akan
dimasuki oleh organisasi saat ini atau bisnis akan ditekuni oleh organisasi tersebut
dimasa yang akan datang. Strategi merupakan usaha organisasi untuk mencapai keunggulan jangka
secara terus menerus dalam setiap bisnis yang dimasukinya dan dari yang berasal
dari lingkungan bisnis
yang dihadapinya. Strategi seluruh tingkatan hirarki dalam
organisasi, yaitu tingkat korporasi, dan fungsional. Kelima, strategi menentukan kontribusi natural
ekonomis - ekonomis bagi para stakeholder
orgnisasi yang bersangkutan. Unsur Strategi Assauri (2011) suatu organisasi
mempunyai banyak strategi, maka itu harus mempunyai bagian-bagian yang mencakup
unsur-unsur strategi adalah:
1.
Dimana organisasi selalu aktif dalam menjalankan
aktivitasnya. Unsur ini dikenal sebagai gelanggang aktivitas atau arena.
2.
Bagaimana kita dapat mencapai arena, yaitu
penggunaan sarana kendaraan.
3.
Bagaimana kita dapat menang di pasar. Hal ini
merupakan pembeda atau yang dikenal dengan differentiators.
4.
Apakah langkah atau tahap, serta urutan
pergerakan kegiatan, serta kecepatannya.
Konsep pemasaran adalah sebuah falsafah
bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat
ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (Stanton 1978).
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain konsep pemasaran mangga Gedong Gincu dan rambutan yaitu:
1. Identifikasi
keinginan konsumen, untuk mengetahuinya diperlukan penelitian yang cermat.
2. Identifikasi
produk yang dipasarkan. Hal ini mendukung pengertian bahwa buat apa produk
tersebut dipasarkan.
- Identifikasi dan sekaligus menciptakan dan membina konsumen. Yang dimaksud adalah untuk menciptakan dan membina langganan pada semua segmen terutama segmen pasar, karena konsumen pada segmen pasar tertentu akan menentukan macam dan kualitas barang yang diminta.
Kegiatan pemasaran perusahaan harus juga memberikan kepuasan kepada konsumen jika menginginkan
usahanya berjalan terus, atau konsumen mempunyai pandangan yang lebih baik
terhadap perusahaan (Dharmmesta dan Handoko 1982). Perusahaan
yang sudah mulai mengenal bahwa pemasaran merupakan faktor penting untuk
mencapai sukses usahanya, akan mengetahui adanya cara dan falsafah baru yang
terlibat di dalamnya. Cara dan falsafah baru yang dengan disebut "Konsep
Pemasaran".
Secara definisi, manajemen
pemasaran adalah penganalisaan,
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-program yang bertujuan
menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai
tujuan perusahaan (Kotler 1980). Sedangkan dalam
Wikipedia bahasa Indonesia disubutkan: Pemasaran adalah proses penyusunan
komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang
atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
Selanjutnya pengertian pemasaran dalam KBBI (2008:1130).
1. Proses,
cara, tindakan
memasarkan suatu barang dagangan.
2. Perihal
menyebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat.
Basu Swasta
(2000) dalam buku Manajemen Penjualannya menyebutkan, pemasaran adalah sistem
keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan
harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa, ide kepada pasar
agar dapat mencapai pasar sasaran. Menurut Djaslim Saladin (2003) Suatu sistem
total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang – barang yang dapat memuaskan
keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. Dan Pemasaran
menurut Philip Kotler (2009) adalah: Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan
produk yang bernilai dengan pihak lain.
1.3 Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Pengertian bauran
pemasaran menurut Buchari Alma (2007) marketing
mix merupakan strategi mencampur kegiatan – kegiatan marketing, agar dicari
kombinasi maksimal sehingga mendatangkan hasil yang paling memuaskan. Bauran
pemasaran adalah “serangkaian dari variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh
perusahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran” (Djaslim
Saladin2003). Sedangkan
menurut Stanton (1978) Bauran pemasaran
(marketing mix) adalah
kombinasi dari 4 variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem
pemasaran perusahaan yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem
distribusi.
1.3.1
Product (Produk)
Produk menurut
Kotler dan Keller (2009) adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
memuaskan kebutuhan atau keinginan. Produk – produk yang dipasarkan meliputi barang
fisik, jasa, pengalaman, acara – acara, orang, tempat, properti, organisasi,
dan gagasan. Istilah lain dari produk yaitu seperti penawaran dan pemecahan.
Produk atau penawaran dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu barang fisik, jasa,
dan pemecahan.Tingkat kepentingan produk fisik lebih tergantung kepada jasa
yang mereka berikan daripada kepemilikannya.
Kotler (2009) menyebutkan, pada dasarnya
barang dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut daya tahan dan
wujudnya, diantaranya adalah:
1.
Barang yang tidak tahan lama (Non durable goods) adalah barang –
barang berwujud yang biasanya tetap bertahan walau biasanya dikonsumsi dalam satu
atau beberapa kali penggunaan. Karena barang – barang ini dikonsumsi dengan
cepat dan sering di beli, maka strategi yang tepat adalah dengan menyediakannya
di berbagai lokasi, selain itu tipe barang seperti ini hanya membutuhkan marjin
yang kecil, dan memasang iklan besar – besaran untuk memancing orang mencobanya
dan membangun preferensi.
2.
Barang tahan lama (durable goods) adalah barang berwujud
yang biasanya tetap digunakan walaupun sudah digunakan berkali – kali. Produk
tahan lama biasanya memerlukan penjualan dan pelayanan yang lebih pribadi,
mempunyai marjin yang lebih tinggi dan memerlukan lebih banyak garansi dari
penjual.
3.
Jasa (service) adalah produk – produk yang tidak berwujud tidak
terpisahkan, dan mudah habis. Akibatnya produk ini biasanya memerlukan
pengendalian mutu, kredibilitas pemasok, dan kemampuan penyesuaian lebih
tinggi.
Menurut Nasution (2004), Kecocokan dalam menggunakan suatu produk adalah
apabila produk mempunyai daya tahan penggunaannya yang lama, produk yang
digunakan akan meningkatkan citra atau status konsumen yang menggunakannya,
produk tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas (quality assurance) dan sesuai etika bila digunakan.
A.
Kualitas
Produk
Produsen memahami
begitu pentingnya peranan dan arti kualitas produk yang unggul untuk memenuhi
harapan pelanggan pada semua aspek produk yang dijual ke pasar. Para petinggi
atau manajemen puncak perusahaan juga umumya semakin menyadari dan mempercayai
adanya keterhubungan langsung antara kualitas produk terhadap customer satisfaction (kepuasan pelanggan)
yang pada akhirnya akan meningkatkan raihan pangsa pasar (market share) di pasar sasaran. Keberadaan kepuasan pelanggan pada
perusahaan merupakan sebuah variabel yang sangat penting dan menentukan
keberhasilan sutu perusahaan. Salah satu tolak ukurnya adalah kualitas.
Sebaliknya produk dengan level indeks kepuasan rendah, pertumbuhan penjualannya
cenderung minus. Merancang dan mengembangkan produk dengan fokus pada keinginan
dan kepuasan pelanggan merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar – tawar.
Menurut Kotler
yang dialihbahasakan oleh Muhtosin Arif (2006), arti kata kualitas dalam The American Society for Quality Control
diartikan sebagai totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang
memiliki kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun implisit. Hal ini berarti fitur produk
yang ditawarkan juga menentukan mutu yang akan mempengaruhi kepuasan konsumen.
Produsen dikatakan telah menyampaikan mutu jika produk atau yang ditawarkannya
sesuai atau melampaui ekspektasi pelanggan.
Sementara dalam mendifinisikan kualitas produk para ahli dalam manajemen
mutu terpadu (total quality management)
mengungkapkan pengertiannya yang saling berbeda pendapat tetapi dari perbedaan
tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang sama, adapun beberapa definisi yang
dikemukakan diantaranya adalah:
Pengertian
kualitas produk menurut Juran, (2004), kualitas produk adalah kecocokan
penggunaan produk (fitness for use) untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan penggunaan itu didasarkan
atas lima ciri utama, yaitu:
a.
Teknologi, yaitu kekuatan atau
daya tahan
b.
Psikologis, yaitu citra rasa
atau status
c.
Waktu, yaitu kehandalan
d.
Kontraktual, yaitu adanya
jaminan
e.
Etika, yaitu sopan santun,
ramah dan jujur
Menurut Nasution (2004), Kecocokan dalam menggunakan suatu produk adalah
apabila produk mempunyai daya tahan penggunaannya yang lama, produk yang
digunakan akan meningkatkan citra atau status konsumen yang menggunakannya,
produk tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas (quality assurance) dan sesuai etika bila digunakan.
Kecocokan penggunaan produk seperti dikemukakan di atas memiliki dua
aspek utama, yaitu ciri – ciri produknya memenuhi tuntutan penggunaan dan tidak
memiliki kelemahan. Adapun aspek tersebut diantaranya adalah:
1.
Ciri-ciri produk yang memenuhi permintaan pelanggan
Produk berkualitas, memiliki ciri yang khusus atau istimewa, berbeda dari
produk pesaing dan dapat memenuhi harapan atau tuntutan sehingga dapat
memuaskan pelanggan. Kualitas yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan meningkatkan kepuasan
pelanggan, membuat produk laku terjual, dapat bersaing dengan pesaing,
meningkatkan pangsa pasar dan volume penjualan serta dapat dijual dengan harga
yang lebih tinggi.
2.
Bebas dari kelemahan
Suatu produk dapat dikatakan berkualitas tinggi apabila di dalam suatu
produk serta unsur yang terdapat didalamnya tidak terdapat kelemahan, tidak
terdapat cacat sedikitpun. Kualitas yang tinggi menyebabkan perusahaan dapat
mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi pengerjaan kembali dan pemborosan,
mengurangi pembiayaan terhadap klaim garansi, mengurangi ketidakpuasan
pelanggan, mengurangi inspeksi dan pengujian, mengurangi waktu pengiriman
produk ke pasar, meningkatkan hasil (yield)
dan meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta memperbaiki kinerja
penyampaian produk.
Crosby, dalam Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai
dengan yang diisyaratkan atau di standarkan. Suatu produk memiliki kualitas
apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Standar kualitas meliputi bahan
baku, proses produksi, dan produk jadi.
Deming, dalam Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah kesesuaian
dengan kebutuhan pasar. Apabila Juran mendefinisikan kualitas sebagai fitness for use dan Crosby sebagai conformance to requirement, deming mendefinisikan kualitas sebagai
kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Perusahaan harus benar – benar
dapat memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen atas suatu produk yang akan
dihasilkan.
Feigenbaum, dalam M. Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah kepuasan
pelanggan sepenuhnya (full customer
satisfaction). Suatu produk berkualitas apabila dapat memberikan kepuasan
sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapakan konsumen
atas suatu produk.
Garvin dan Davis, dalam Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja,
proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan
pelanggan atau konsumen. Meskipun tidak ada definisi kualitas yang diterima secara universal,
namun pengertian kualitas di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu sebagai
berikut:
a.
Kuallitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
b.
Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah
Setelah melihat
definisi di atas, maka kualitas produk
mengacu pada bagaimana produk
tersebut menjalankan fungsinya yang mencakup keseluruhan dari produk, yaitu berupa ketahanan,
kehandalan, ketepatan, kemudahan dalam pengoperasian, dan kemudahan dalam
perbaikan serta atribut – atribut nilai lainnya. Penetapan kualitas merupakan salah satu cara
untuk memenangkan persaingan di pasar, karena mutu merupakan salah satu cara
penempatan suatu produk di benak
pelanggan.
1.3.2
Price (Harga)
Definisi harga menurut Philip Kotler adalah: “price is the amount of money charged for a
product or service. More broadly, price is the sum of all the value that
consumers exchange for the benefits of having or using the product or service”.
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa. Secara
lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen untuk
mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk atau jasa.
Sedangkan Stanton mendefinisikan harga: “Price is the amount of money and or goods
needed to acquire some combination of another goods and its companying services”.
Harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan
kombinasi dari barang yang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Harga
merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu
saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat
juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu – satunya elemen yang
menghasilkan pendapatan dari penjualan.
Perusahaan menetapkan suatu harga dengan melakukan
pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi satu atau lebih diantara
tiga perangkat perimbangan berikut ini yakni:
1. Cost
– Based Pricing
(Penetapan harga berdasarkan biaya)
a) Cost
– Plus – Pricing
(Penetapan harga biaya plus)
Metode
ini merupakan metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini
menambah standar mark-up terhadap biaya produk.
b) Break
Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran)
Suatu
metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even
atau membuat target laba yang akan dicari.
2. Value
– Based Pricing
(Penetapan harga berdasarkan nilai)
Metode
ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan)
untuk menetapkan suatu harga.
3. Competition
– Based Pricing
(Penetapan harga berdasarkan persaingan)
a) Going
– rate Pricing
(Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku)
Perusahaan
mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan
permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau
lebih rendah dan pesaing utamanya.
b) Scaled
– Bid Pricing
(Penetapan harga penawaran tertutup)
Perusahaan
menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau
permintaan perusahaan.
1.3.3
Place
(Tempat atau distribusi)
Menurut Philip Kotler mengenai distribusi adalah: “The various the company undertakes to make
the product accessible and available to target customer”. Berbagai kegiatan
yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah diperoleh dan tersedia
untuk konsumen sasaran.
Keputusan penentuan lokasi dan saluran yang digunakan untuk
memberikan jasa kepada pelanggan melibatkan pemikiran tentang bagaimana cara
mengirimkan atau menyampaikan jasa kepada pelanggan dan dimana hal tersebut
akan dilakukan. Ini harus dipertimbangkan karena dalam bidang jasa sering kali
tidak dapat ditentukan tempat dimana akan diproduksi dan dikonsumsi pada saat
bersamaan. Saluran distribusi dapat dilihat sebagai kumpulan organisasi yang
saling bergantungan satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan
sebuah produk/pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Penyampaian dalam
perusahaan jasa harus dapat mencari agen dan lokasi untuk menjangkau populasi
yang tersebar luas.
Sebagai salah satu variabel marketing mix, place / tempat mempunyai peranan yang
sangat penting dalam membantu perusahaan memastikan produknya, karena tujuan
dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan
diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.
1.3.4
Promotion (Promosi)
Merupakan
berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan dengan tujuan utama untuk
menginformasikan, membujuk, mempengaruhi dan mengingatkan konsumen agar membeli
produk dari perusahaan. Dalam hal ini keputusan – keputusan yang diambil mencakup iklan, penjualan
personal, promosi penjualan, dan publikasi. Menurut Philip Kotler promotion
tools didefinisikan sebagai berikut:
1. Advertising (Periklanan)
Suatu
promosi barang atau jasa yang sifatnya non personal dilakukan oleh sponsor yang
diketahui.
2. Personal
selling
(Penjualan perorangan)
Penjualan
perorangan yang dilakukan oleh para wiraniaga yang mencoba dan membujuk untuk
melakukan penjualan sekaligus.
3. Sales
promotion
(Promosi penjualan)
Suatu
kegiatan yang dimaksud untuk membantu mendapatkan konsumen yang bersedia
membeli produk atau jasa suatu perusahaan.
4. Public
relation
(Publisitas)
Suatu
kegiatan pengiklanan secara tidak langsung dimana produk atau jasa suatu
perusahaan disebarluaskan oleh media komunikasi.
1.4 Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu
pasarmenjadi kelompok – kelompok pembeli yang berbeda yang
memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin
membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga
dapat diartikan sebagai proses identifikasi dan analisis para pembeli di pasar
produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar. Ada beberapa definisi
dari segmentasi pasar menurut para ahli, yaitu:
1. Swastha
dan Handoko (1997)
Mengartikan segmentasi
pasar sebagai kegiatan membagi – bagi pasar/market
yang bersifat heterogen kedalam satuan – satuan pasar yang bersifat homogen.
2. Pride
dan Ferrel (1995)
Mengatakan bahwa
segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen – segmen
pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya
kesamaan perilaku pembeli.
3. Kotler,
Bowen dan Makens (2002)
Pasarterdiri dari
pembeli dan pembeli berbeda – beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam
keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena
masing – masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing – masing
pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya
mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing – masing pembeli.
Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan
tidak dapat membeli produk yang benar – benar disesuaikan dengan kebutuhan.
Untuk itu, perusahaan mencari kelas – kelas pembeli yang lebih besar dengan
kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda – beda.
4. Kotler
Segmentasi pasar, yaitu
usaha pemisahan pasar pada kelompok – kelompok pembeli menurut jenis – jenis
produk tertentu dan yang memerlukan bauran pemasaran tersendiri. Perusahaan
menetapkan berbagai cara yang berbeda dalam memisahkan pasar tersebut, kemudian
mengembangkan profil – profil yang ada pada setiap segmen pasar, dan menilai
daya tarik masing – masing segmen – segmen pasar.
5. Hermawan
Kertajaya
Segmentasi pasar adalah
sebuah metode bagaimana memandang pasar secara kreatif. Kita perlu secara
kreatif mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang yang muncul dipasar.Dasar –
dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen adalah:
1.4.1
Segmentasi geografi
Variabel
tersebut, antara lain: wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan
iklim. Segmentasi geografi akan membagi pasar ke dalam beberapa bagian geografi
yang berbeda ‐ beda seperti negara, negara bagian, wilayah, kota, dan desa.
Perusahaan akan beroperasi pada satu atau beberapa area geografi yang dipandang
potensial dan menguntungkan.
1.4.2
Segmentasi demografi
Variabel
tersebut, antara lain: umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan,
dan lain - lain. Dalam segmentasi demografi, pasar dibagi menjadi grup ‐
grup dengan dasar pembagian seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendekatan,
tingkat pendidikan, dan agama. Setidaknya beberapa alasan mengapa pendekatan
demografi hampir selalu disertakan, antara lain adalah informasi demografi
adalah informasi yang mudah dijangkau dan relatif lebih murah untuk
mengidentifikasikan target market, informasi demografi memberikan insight tentang trend yang sedang
terjadi, meski tidak dapat untuk meramalkan perilaku konsumen, demografi dapat
dilihat untuk melihat perubahan permintaan aneka produk dan yang terakhir
demografi dapat digunakan untuk mengevaluasi kampanye ‐ kampanye
pemasaran.
1.4.3
Segmentasi psikologis
Variabel
tersebut, antara lain: kelas sosial, gaya hidup, kepribadian, manfaat yang
dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada
produk. Ciri
‐ ciri psikologis berkenaan dengan inner atau kualitas intrinsic
dari consumer individual. Strategi
segmentasi konsumen kadang ‐ kadang didasarkan pada
variabel psikologis yang spesifik. Konsumen dapat dibagi menurut
demografi tetapi seringkali ini tidaklah cukup. Perusahaan ingin tahu lebih jauh
apa sebenarnya yang membuat orang‐orang yang
memiliki usia, penghasilan, pendapatan dan pendidikan yang sama berbeda dalam
merespon suatu pemasaran. Dalam segmentasi psikografis, perilaku konsumen
diobservasi melalui kelas sosial (social
class), gaya hidup (lifestyle),
nilai ‐ nilai kehidupan yang dianut
(value) dan kepribadian (personality). Menurut Philip Kotler
(1997) tentang kepuasan konsumen, yaitu perasaan senang atau kecewa
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap
kinerja (hasil) suatu produk dengan harapannya.
1.4.4
Manfaat dan kelemahan Segmentasi
Dengan
menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa
secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan
tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam
jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991). Manfaat yang
lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan
akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan –
kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat
mendesign produk yang benar – benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat
menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat
mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen
yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat
digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode –
periode dimana reaksi pasar cukup besar.
Gitosudarmo
(2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
a) Dapat
membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
b) Dapat
digunakan untuk mengetahui sifat masing – masing segmen.
c) Dapat
digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
d) Dapat
digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.
Sekalipun
tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga
mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan – kelemahan dari
tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:
1. Biaya
produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2. Biaya
penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam
segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya
promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan
diskon.
4. Kemungkinan
akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.
1.5 Targeting
(Target Pasar)
Targeting adalah
proses penyeleksian produk, baik barang maupun jasa atau pelayanan terbaik
sehingga benar – benar berada pada posisi yang
terbaik guna mencapai keberhasilan. Setelah perusahaan mengidetifikasikan
peluang segmen pasar, selanjutnya adalah mengevaluasi beragam segmen tersebut
untuk memutuskan segmen mana yang menjadi target
market. Targeting adalah kumpulan pembeli dengan kebutuhan atau karateristik serupa
yang akan dilayani oleh perusahaan (Kotler dan Armstrong 1997). Pasar sasaran
merupakan keputusan perusahaan mengenai segmen atau pasar manakah yang akan
dilayani (Swastha dan Irawan 1990).
Menurut Gitosudarmo (1999) pada dasarnya
ada tiga jenis strategi pemasaran dalam pasar sasaran, yaitu:
a. Strategi
satu sasaran (single target). Dalam hal ini perusahaan memilih salah satu segmen yang
dipandang paling potensial dan kemudian dijadikannya sebagai sasaran atau
target untuk dilayaninya dengan marketing mixnya. Strategi ini disebut concentrated
marketing.
b. Strategi
sasaran ganda (multy targets). Disini perusahaan memiliki dua atau beberapa
bahkan mungkin semua segmen untuk dilayaninya tetapi dengan cara pelayanan atau
strategi marketing mix yang berbeda terhadap segmen yang berbeda. Jadi
dalam hal ini perusahaan
melakukan strategi yang berbeda terhadap segmen yang berbeda. Strategi ini
sering disebut sebagai differentiated marketing.
c.
Strategi kombinasi sasaran (combine targets).
Dalam hal ini perusahaan
mengkombinasikan atau menyatukan beberapa segmen menjadi satu segmen menjadi
satu segmen yang lebih luas sebagai sasarannya dan kemudian mengatur strategi
untuk segmen pasar yang luas tersebut. Strategi ini sering disebut sebagai undifferentiated
marketing.
1.6 Positioning
(Posisi Pasar )
Positioning adalah tindakan perusahaan untuk merancang produk dan bauran
pemasaran agar dapat tercipta kesan tertentu diingatan konsumen. Sehingga
dengan demikian konsumen segmen memahami dan menghargai apa yang dilakukan
perusahaan dalam kaitannya dengan para pesaingnya. Positioning adalah
cara produk, merek atau organisasi perusahaan dipersepsikan secara relatif
dibandingkan dengan para pesaing oleh pelanggan saat ini maupun calon pelanggan
(Tjiptono 2007). Positioning adalah mengembangkan bauran pemasaran
spesifik untuk mempengaruhi keseluruhan persepsi pelanggan pelanggan potensial
terhadap merek, lini produk, atau organisasi secara umum (Lamb, Hair, Mc Daniel
2001).
A. Langkah – Langkah Positioning
Menurut Kotler dalam Lupiyoadi (2001),
setidaknya ada tiga langkah dalam melakukan positioning, yakni :
a. Mengenali
keunggulan–keunggulan yang mungkin dapat ditampilkan dalam hubungan dengan
pesaing.
b. Memilih
keunggulan–keunggulan yang paling kuat/menonjol.
c.
Menyampaikan keunggulan itu secara efektif
kepada target pasar.
B. Kriteria Positioning
Tidak semua keunggulan merupakan
indikator yang biasa ditampilkan ke pasar, tetapi harus diseleksi. Menurut
Kotler dalam Lupiyoadi (2001), sebuah keunggulan yang patut ditampilkan harus
memenuhi kriteria:
a. Penting.
Keunggulan itu harus merupakan kemampuan yang dianggap sangat penting oleh
cukup banyak pembeli.
b. Berbeda.
Belum ada pesaing yang menawarkan/memposisikan keunggulan itu atau mereka sudah
ada yang menawarkannya namun masih dengan cara yang lebih umum.
c. Unggul
(superior). Keunggulan itu lebih baik
disbanding yang dimiliki produk atau jasa lainnya yang dimiliki pesaing.
d. Dapat
dikomunikasikan. Keunggulan itu dapat dikomunikasikan dan menjadi perhatian
pembeli atau calon pembeli.
e. Pelopor.
Pesaing sulit meniru keunggulan yang dimiliki tersebut.
f. Harga
terjangkau. Pembeli mampu membayar biaya keunggulan yang ditambahkan dalam
produk tersebut.
g. Menguntungkan.
Perusahaan dapat memperoleh laba dari pemberian keunggulan tersebut.
1.7 Analisis
Lingkungan Perusahaan
Analisis keberadaan suatu perusahaan tidak terlepas dari pengaruh
lingkungan. Lingkungan perusahaan mengalami perubahan yang cukup drastis
dinamis yang mengakibatkan persaingan yang ketat antara perusahaan. Untuk dapat
berkembang atau setidak-tidaknya dapat bertahan pada kondisi lingkungan selalu
berubah, pihak manajemen dituntut untuk dapat membuat perencanaan yang matang
baik rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Analisis lingkungan secara sistematis efektif juga membantu
perencana strategi untuk mengembangkan sistem pencegahan dini untuk menghindari
ancaman atau mengembangkan strategi yang dapat mengubah ancaman menjadi
keuntungan bagi perusahaan. Analisis ini juga bertujuan agar manajer perusahaan memiliki
kemampuan untuk dapat meramalkan perubahan yang mungkin terjadi, sehingga dapat
mengantisipasi perubahan tersebut.
Lingkungan perusahaan terbagi menjadi dua, yaitu lingkungan internal
perusahaan dan lingkungan eksternal perusahaan. Analisis lingkungan
internal perusahaan ditujukan untuk melihat sektor lingkungan dalam menentukan
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan. Faktor internal
perusahaan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi arah dan tindakan
perusahaan yang berasal dari perusahaan (Rosyidah 2014). Analisis ini diperlukan
dalam menyusun matriks IFE. Sedangkan analisis lingkungan eksternal perusahaan
ditujukan untuk melihat sektor lingkungan dalam menentukan peluang dan ancaman
terhadap perusahaan. Faktor eksternal perusahaan merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi arah dan tindakan perusahaan yang berasal dari luar perusahaan.
1.7.1
Analisis Lingkungan Internal
Kekuatan internal berasal dari dalam perusahaan meliputi manajemen
sumberdaya manusia dan organisasi, manajemen produksi dan operasi, manajemen
pemasaran, manajemen keuangan, sistem informasi manajemen. Melalui
analisis internal, kekuatan dan kelemahan tersebut diharapkan dapat dievaluasi
sehingga perusahaan dapat memanfaatkan kekuatan dan mengatasi kelemahan yang
dimilikinya. Penjelasan dari setiap faktor internal diuraikan sebagai berikut :
a.
Manajemen
Organisasi adalah kumpulan manusia
dan sarana pendukung yang diikat pada satu kesatuan untuk mencapai tujuan
bersama. Manajemen pengaturan dan kerjasama unsur-unsur manusia dengan manusia
dan sarana pendukung (alat-alat) untuk mencapai tujuan (organisasi) secara
efektif dan efisien. Menurut George R.Terry berpendapat bahwa manajemen adalah
pencapaian tujuan (organisasi) yang sudah ditentukan sebelumnya dengan
mempergunakan bantuan orang lain. Fungsi manajemen dalam suatu organisasi
terdiri atas lima aktivitas pokok yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pemotivasian, penempatan staf dan pengontrolan.
b. Produksi dan Operasi
Produksi adalah kegiatan yang
menciptakan, mengolah, mengupayakan pelayanan, menghasilkan barang dan jasa atau usaha untuk meningkatkan suatu
benda agar menjadi lebih berguna bagi kebutuhan manusia. Indikator; Jenis
produksi, jumlah produksi dan lama proses produksi. Fungsi produksi dan operasi
adalah suatu bisnis yang terdiri atas semua aktivitas yang mengubah input
menjadi barang dan jasa. Manajemen produksi menangani input, transformasi dan
output yang beragam dari satu industri dan pasar ke industri dan pasar yang
lain (David 2009).
c.
Pemasaran
Pemasaran merupakan proses
perencanaan dan pelaksanaan konsep, pemberian harga, promosi dan
pendistribusian ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang
memuaskan individu dan tujuan organisasi. Pemasaran adalah proses
mendefinisikan, mengantisipasi, menciptakan serta memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan atas suatu produk (David, 2009). Fungsi dasar pemasaran
terdiri atas analisis pelanggan, penjualan produk, perencanaan produk,
penetapan harga, distribusi, riset pemasaran, dan analisis peluang. Perusahaan
dalam pencapaian tujuan dan sasarannya dapat menggunakan suatu alat yang
dikenal dengan bauran pemasaran, yang terdiri dari product (produk), price
(harga), place (tempat), promotion (promosi), people (orang),
physical Evidance (bukti fisik) dan process (proses).
d.
Keuangan
Menurut David (2009) keuangan adalah
ukuran terbaik untuk posisi kompetitif dan daya tarik keseluruhan.dana sangat
dibutuhkan dalam operasional perusahaan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan
antara lain kemampuan perusahaan memupuk modal jangka pendek dan jangka
panjang, beban yang harus dipikul sebagai upaya memperoleh modal tambahan,
hubungan baik dengan penanam modal dan pemegang saham, pengelolaan keuangan,
struktur modal kerja, harga jual produk, pemantau penyebab inefisiensi dan
sistem akunting yang handal.
e.
Sistem Informasi Manajemen
Informasi menghubungkan semua fungsi
bisnis dan menyediakan landasan bagi semua keputusan manajerial. Informasi
merepresentasikan sumber penting keunggulan atau kelemahan manajemen
kompetitif. Sistem informasi yang efektif adalah seperti sebuah perpustakaan,
mengumpulkan, mengelompokkan, dan mengisi data untuk digunakan oleh para manajer
di perusahaan. Sistem informasi adalah sebuah sumber daya strategis yang penting,
yang memonitor beragam isu dan tren eksternal dan internal, mengidentifikasi
ancaman-ancaman kompetitif, dan membantu dalam penerapan, pengevaluasian dan
pengendalian strategi.
1.7.2
Lingkungan Eksternal Perusahaan
Lingkungan eksternal perusahaan
menjelaskan tentang peluang
dan ancaman besar yang dihadapi oleh suatu perusahaan di masa kini
ataupun masa akan datang, sehingga manajer dapat merumuskan strategi yang tepat
guna mengambil keuntungan dari berbagai peluang dan meminimalkan dampak dari
ancaman yang muncul. Proses yang dilakukan secara kontinyu untuk melakukan
analisis lingkungan eksternal adalah dengan melakukan pemindaian (scanning),
pengawasan (monitoring), peramalan (forecasting) dan penilaian (assessing). Analisis lingkungan
eksternal perusahaan dibagi menjadi dua kategori diantaranya adalah
lingkungan jauh dan lingkungan industri.
Lingkungan
jauh merupakan lingkungan yang secara tidak langsung mempengaruhi keputusan
strategi perusahaan dalam jangka panjang dan bersifat uncontrollable.
Sedangkan lingkungan industri merupakan analisa terhadap kelompok yang
terkait (stake holder). Perusahaan harus melakukan penilaian secara
hati-hati terhadap tekanan-tekanan dari potensi masuknya pesaing baru, saing
pemasok, daya saing pembeli, potensi pengembangan produk penganti maupun
persaingan antar perusahaan saingan dari stakeholder. Karena semakin besar
kekuatan dari tiap-tiap elemen tersebut maka kemampuan perusahaan untuk
meningkatkan harga atau laba semakin terbatas.
1. Lingkungan
Ekonomi
Lingkungan
ekonomi terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi daya beli konsumen dan
pola pengeluarannya. Pasar memerlukan daya beli selain jumlah orang. Daya beli total
tergantung pada pendapatan sekarang, harga-harga, tabungan dan utang. Pemasar
harus menyadari kecenderungan utama dalam pendapatan dan pengeluaran konsumen
yang berubah-ubah (Kotler, 2002).
2. Lingkungan
Teknologi
Perkembangan
teknologi mengalami kemajuan yang pesat baik di bidang bisnis maupun bidang
yang mendukung kegiatan bisnis. Sebenarnya terknologi tidak hanya mencakup
penemuan terbaru saja tetapi juga meliputi cara-cara pelaksanaan atau metode
baru dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Teknologi memberikan
gambaran yang luas meliputi mendesain, menghasilkan dan mendistribusikan. Teknologi
mungkin adalah kekuatan yang paling dramatis yang membentuk lingkungan
pemasaran.(Kotler dan Amstrong, 1996).
3. Lingkungan
Politik
Keputusan
pemasaran sangat dipengaruhi pula oleh perkembangan dalam lingkungan politik. Lingkungan ini
terdiri dari undang-undang, lembaga pemerintah dan golongan yang berpengaruh
yang mempengaruhi dan membatasi berbagai organisasi dan individu dalam
masyarakat (Kotler, 2002). Lingkungan Sosial Budaya
dan Demografi sosial yang berpengaruh adalah kepercayaan, nilai sikap, opini,
dan hidup orang-orang di lingkungan eksternal yang berkembang dari kultural,
ekologi, demografi, agama, pendidikan, dan etnik (David 2009).
4. Skala
Ekonomi
Skala ekonomi adalah bertambahnya
jumlah barang yang diproduksi dalam satu periode sehingga menurunkan biaya
satuan per unit. Skala ekonomi ini menghalangi masuknya pendatang baru dengan
cara memaksanya masuk dalam skala besar dengan konsekuensi menghadapi reaksi
keras dari pesaing yang ada.
5. Deferensiasi
Produk
Perusahaan yang melakukan
deferensiasi produk memiliki identifikasi merk dan loyalitas pelanggan yang
disebabkan oleh periklanan, pelayanan pelanggan, perbedaan produk di masa
lampau atau sekedar perusahaan pertama yang memasuki industri. Deferensiasi
produk memaksa pendatang baru untuk mengeluarkan biaya yang besar untuk
mengatasi kesetiaan pelanggan.
6. Kebutuhan
Modal
Kebutuhan untuk menanamkan
investasi sumber daya keuangan yang besar menciptakan hambatan masuk khususnya
jika modal yang diperlukan untuk periklanan tidak dapat kembali.
7. Biaya
Beralih Pemasok
Hambatan masuk yang tercipta
dengan adanya biaya beralih pemasok yaitu biaya yang harus dikeluarkan pembeli
bilamana berpindah dari produk pemasok tertentu ke produk pemasok lain. Biaya
peralihan meliputi biaya karyawan, biaya perlengkapan yang baru, desain ulang
produk, bahkan biaya psikologis akibat hubungan yang rusak.
8. Akses
ke Saluran Distribusi
Hambatan yang masuk dapat
ditimbulkan dengan adanya kebutuhan pendatang baru untuk mengamankan distribusi
produknya. Bilamana saluran distribusi untuk produk tersebut telah ditangani
oleh perusahaan yang mapan maka perusahaan baru harus membujuk saluran tersebut
agar menerima produknya melalui cara-cara penurunan harga, kerjasama periklanan
dan sebagainya.
9. Kebijakan
Pemerintah
Pemerintah dapat membatasi bahkan
menutup masuknya industri dengan melakukan pengendalian dan pengawasan, seperti
perjanjian lisensi dan batasan-batasan akses ke bahan baku. Pemerintah juga
memainkan peranan secara tidak langsung seperti standar polusi udara dan
peraturan keamanan.
10. Hambatan
Biaya Terlepas Dari Skala
Perusahaan yang telah mapan
memiliki keunggulan biaya yang tidak dimiliki oleh pendatang baru, seperti
keunggulan lokasi yang strategis, teknologi rahasia, penguasaan yang
menguntungkan terhadap bahan baku, subsidi pemerintah dan keunggulan kurva.
11. Ancaman
Produk Substitusi.
Semua
perusahaan dalam suatu industri dengan produk substitusi, meskipun
karakteristik berbeda, barang substitusi dapat memberikan fungsi dan jasa yang
sama. Ancaman produk substitusi kuat jika konsumen dihadapkan pada harga lebih
murah dan kualitas sama atau lebih baik dibandingkan dengan produk industri
tersebut.
12. Kekuatan
Tawar Menawar Pemasok (Suppliers).
Pemasok
dapat mempengaruhi industri melalui kemampuan menaikkan harga atau menurunkan kualitas
produk atau pelayanan. Hubungan antara perusahaan dengan pemasok sangat penting
untuk keberlanjutan usaha dalam dukungan bahan baku.
13. Kekuatan
Tawar Menawar Pelanggan (Buyers).
Untuk
melihat seberapa jauh para pembeli dengan kekuatan yang mereka miliki mampu mempengaruhi
industri untuk menurunkan harga produk, serta meningkatkan mutu dan pelayanan.
14. Persaingan
Sesama Perusahaan dalam Industri.
Tingkat
persaingan industri meliputi: jumlah kompetitor, karakteristik produk, biaya
tetap yang besar, kapasitas dan hambatan keluar.
1.8 Matriks EFE dan IFE
(David
2009) mengungkapkan perumusan strategi yang dilakukan oleh dapat menggunakan
matrik IFE dan EFE yang merupakan matriks faktor internal dan eksternal
perusahaan untuk mengidentifikasi lingkungan dan eksternal yang memperngaruhi
perusahaan. Matriks EFE digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor eksternal
perusahaan. Data eksternal dikumpulkan untuk menganalisis hal-hal yang
menyangkut persoalan ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan, politik,
pemerintahan, hukum, teknologi, persaingan di pasar industri di mana perusahaan
berada serta berbagai data eksternal lainnya yang relevan. Hal ini
penting karena faktor eksternal berpengaruh secara langsung maupun tidak
langsung terhadap perusahaan.
Matriks
IFE digunakan untuk mengetahui faktor-faktor internal perusahaan berkaitan
kekuatan dan kelemahan yang dianggap penting. Data dan informasi aspek
internal dapat digali dari beberapa fungsional perusahaan, misalnya dari aspek
manajemen, pemasaran, produksi – operasi, keuangan, penelitian dan pengembangan
dan sistem informasi manajemen. Penilaian intuitif sangat berpengaruh dalam
meneliti berbagai faktor eksternal dan internal ini, sehingga diharapkan
pengetahuan yang mendalam mengenai faktor-faktor tersebut (Manalu 2009).
1.9 Matriks IE (Internal-Eksternal)
Matriks
IE merupakan matriks portofolio yang digunakan untuk menentukan posisi unit
bisnis strategi dalam suatu perusahaan (David, 2009). Dalam analisis dengan
menggunakan matriks IE ini maka perusahaan harus memperhatikan dua hal yang
utama yaitu pengaruh keseluruhan dari faktor eksternal dan faktor internal
perusahaan (Manalu 2009).
Menurut
David (2009) matrik IE memposisikan berbagai divisi suatu organisasi dalam
tampilan sembilan sel. Pada matriks IE terdapat tiga bagian besar yang
mempunyai implikasi strategi berbeda. Pertama ketentuan untuk divisi-divisi
yang masuk dalam sel I, II IV dapat digambarkan sebagai tumbuh dan membangun (grow
and build). Strategi yang intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar dan
pengembangan produk) atau intergratif (integrasi ke belakang, integrasi ke
depan dan integrasi horizontal) bisa menjadi yang paling tepat bagi divisi ini.
Kedua, divisi-divisi masuk dalam sel III, V atau VII dapat ditangani dengan
baik melalui strategi menjaga dan mempertahankan (hold
and maintain); penetrasi
pasar dan pengembangan produk
adalah dua strategi yang paling banyak digunakan dalam divisi ini. Ketiga,
ketentuan umum untuk divisi yang masuk dalam sel VI, VIII, IX adalah panen atau
divestasi (harvest or divest).
1.10
Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi
berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength) dan
peluang (Opputunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (Weaknesses) dan Ancaman Threats). Walaupun
cenderung sederhana dan bersifat langsung dalam penggunaannya, namun
dapat menyajikan suatu analisis
yang komprehensif dan akurat tentang usaha yang dilaksanakan (Sulastiyono,
1999). Analisis ini menyediakan kerangka yang baik dalam menggambarkan
strategi, posisi dan arah perusahaan.
Kekuatan merupakan keunggulan yang
dimiliki perusahaan yang dapat membuka peluang yang lebih luas bagi perusahaan
untuk upaya pengembangan. Kelemahan merupakan setiap kekurangan yang terdapat dalam sumberdaya
maupun keahlian yang dimiliki perusahaan. Peluang atau kesempatan
merupakan peristiwa-peristiwa di lingkungan luar yang memungkinkan perusahaan
untuk mendapatkan keuntungan. Ancaman merupakan bahaya atau masalah yang dapat
menghancurkan kedudukan perusahaan. Sesuatu yang menjadi peluang bagi sebuah
perusahaan dapat menjadi ancaman bagi perusahaan lain, begitu juga sebaliknya.
1.10.1 Fungsi SWOT
Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari Analisis SWOT
adalah untuk mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya
dalam pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan
eksternal (peluang dan ancaman). Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah
informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai
tujuannya atau memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi
atau diminimalkan untuk memenuhi pemasukan yang diinginkan. Analisis SWOT dapat
digunakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan analisis dalam usaha
penetapan strategi. Umumnya yang sering digunakan adalah sebagai kerangka
sistematis dalam diskusi untuk membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin
menjadi pertimbangan perusahaan.
1.10.2 Matriks SWOT
Menurut Rangkuti (2006), Matriks SWOT dapat menggambarkan
secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan
dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif strategis.
Dari keterangan dari matriks SWOT tersebut yang berdasakan
faktor internal dan eksternal, perusahaan akan lebih mudah dalam menentukan
strategi yang akan digunakan untuk memenangkan persaingan adalah sebagai
berikut:
1.
Strategi
SO (Strength and Oppurtunity). Strategi ini dibuat
berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh
kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
2.
Strategi
ST (Strength and Threats). Strategi dalam menggunakan
kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
3.
Strategi
WO (Weakness and Oppurtunity). Strategi ini diterapkan
berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan
yang ada.
4.
Strategi
WT (Weakness and Threats). Strategi ini berdasarkan
kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada
serta menghindari ancaman.
1.11
Matriks
QSP (Quantitative Strategic Planning)
QSPM (Quantitative
Strategic Planning Matrix) merupakan alat yang memungkinkan ahli strategi
untuk mengevaluasi strategi alternatif secara objektif pada faktor-faktor
kritis untuk sukses eksternal dan internal yang sebelumnya, serta memerlukan
penilaian intuitif yang baik. Kegunaan adalah menetapkan daya tarik relatif dari
tindakan alternatif yang layak memutuskan strategi mana yang terbaik. Menurut
David (2009) QSPM memiliki beberapa kelebihan dan dalam beberapa hal yaitu:
1.
Dapat diperiksa secara berurutan atau bersamaan.
2.
Ada batas jumlah strategi yang dapat diperiksa
atau dievaluasi.
3.
Membutuhkan ketelitian dalam memadukan faktor
eksternal dan internal yang dalam proses keputusan.
Matriks
QSPM adalah alat yang digunakan untuk mengevaluasi berbagai strategi alternatif
berdasarkan faktor-faktor keberhasilan penting eksternal dan internal dari
perusahaan yang telah diidentifikas sebelumnya. Matriks QSPM bertujuan untuk menetapkan tindakan
alternatif yang dijalankan dari
strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih untuk menentukan strategi
mana yang dianggap paling baik untuk diimplementasikan oleh perusahaan.
Sifat positif dari QSPM adalah satu
strategi dapat diperiksa secara berurutan atau bersamaan, tidak ada batasan
jumlah strategi yang dapat dievaluasi atau diperiksa sekaligus serta
mengharuskan ahli strategi untuk memadukan faktor-faktor eksternal dan internal
yang terkait ke dalam proses keputusan. QSPM merupakan masukan dari
hasil analisis pencocokan tahap-tahap yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian
diambil keputusan secara objektif strategi alternatif yang dapat dijalankan
oleh perusahaan. Diharapkan
strategi yang dihasilkan oleh QSPM dapat menjadi dasar bagi perusahaan.
1.12
Analisis
Finansial
Analisis
finansial menurut Agus Setyono 2014 adalah untuk (1) menentukan apakah usaha
penanaman modal tersebut menguntungkan apa tidak. (2) menentukan beberapa
alternatif dalam penanaman modal. (3) menentukan pengambilan keputusan, usaha
penanaman modal tersebut diteruskan apa tidak. (4) menentukan kapan usaha
penanaman modal tersebut berada pada titik dimana usaha tersebut tidak untung
dan tidak rugi. Data
yang diperlukan untuk analisis finansial:
1.
Jenis pengeluaran dan spesifikasinya
Jenis pengeluaran meliputi:
·
Bahan baku
·
Jumlah
tenaga kerja
·
Harga produk
·
Hari kerja
Spesifikasi pengeluaran
meliputi:
·
Spesifikasi
untuk kapasitas produksi satuan berat persatuan waktu, begitu juga kebutuhan
bahan baku.
·
Spesifikasi
upah kerja adalah Rupiah/bulan/orang.
2.
Modal usaha
Modal usaha dalam perusahaan
terdiri atas:
·
Modal tetap
merupakan modal yang besarnya tidak tergantung pada jumlah produk yang
dihasilkan.
·
Modal kerja
merupakan modal yang jumlahnya berubah tergantung unit produk yang dihasilkan.
b. Modal tetap
Modal tetap atau modal
investasi merupakan modal yang besarnya tetap untuk setiap proses produksi
·
Artinya
besarnya modal tidak tergantung pada jumlah produk yang dihasilkan
·
Modal tetap
suatu perusahaan digunakan untuk investasi bangunan dan peralatan meliputi
jenis dan jumlahnya.
Ø
Jenis barang
Ø
Bangunan
Ø
Peralatan
c. Modal kerja
Modal kerja merupakan modal
yang diperlukan untuk memulai satu siklus produksi
·
Perhitungan
modal suatu perusahaan dilakukan untuk sebulan kerja atau untuk memproduksi
sejumlah tertentu suatu produk.
Biaya untuk kebutuhan perbulan
Ø
Bahan baku
Ø
Bahan
penunjang
Ø
Biaya tenaga
kerja
2. Biaya
produksi
Biaya produksi pada dasarnya
dibedakan atas (1) biaya produksi yang besarnya tetap selama produksi (biaya
tetap) dan (2) biaya yang besarnya tergantung produk yang dihasilkan (biaya
tetap).
a. Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya
produksi yang jumlahnya selama satu periode kerja tetap. Biaya ini, tidak tergantung
dari jumlah produk yang dihasilkan dan jumlah kerja suatu alat atau mesin.
Biaya tetap meliputi:
Ø
Biaya
penyusutan bangunan dan alat
Ø
Transportasi
Ø
Gaji tenaga
kerja
b. Biaya tidak tetap
·
Biaya tidak
tetap adalah biaya produksi yang dikeluarkan pada saat alat dan mesin
beroperasi. Besarnya biaya ini tergantung pada jumlah jam kerja dan jumlah
produk yang dihasilkan.
·
Perhitungan
biaya tidak tetap dilakukan terhadap biaya bahan baku, bahan penunjang dan upah
kerja.
c. Biaya produksi total
Biaya total merupakan biaya
keseluruhan yang diperlukan untuk memproduksi suatu produk. Artinya merupakan
jumlah dari biaya tetap dan biaya tidak tetap.
3. Perhitungan
Keuntungan
·
Keuntungan
merupakan selisih antara pendapatan dengan pengeluaran.
·
Pengeluaran
adalah total biaya produksi, sedang pendapatan diperoleh dari penjualan hasil.
4. Perhitungan
Break Event Point(BEP)
·
Break Event Point (BEP) adalah
suatu titik keseimbangan antara jumlah hasil penjualan dengan jumlah biaya yang
dikeluarkan atau perusahaan tersebut tidak mengalami laba atau rugi.
Rumus untuk mencari titik
impas sebagai berikut:
|
a.
BEP
|
=
|
|
Biaya tetap
|
|
|
1 -
|
Biaya tidak tetap
|
|
||
|
|
|
Pendapatan
|
|
|
b.
Persen
titik impas
|
=
|
Nilai BEP
|
X 100%
|
|
|
Pendapatan
|
|
c. Kapasitas titik impas
Kapasitas titik impas adalah
jumlah produksi yang harus dilakukan untuk mencapai titik impas di atas.
Rumus kapasitas titk impas:
|
Kapasitas titk impas
|
=
|
|
Biaya tetap
|
X 100% X kapasitas produksi/bulan
|
|
|
1 -
|
Biaya tidak tetap
|
|
|||
|
|
|
Pendapatan
|
|
|
5. Nilai
Tambah Tiap Kilogram Bahan
Nilai tambah yang didapatkan
dengan mengolah bahan baku menjadi suatu produk, dapat dihitung menggunakan
sebagai berikut:
|
|
Keuntungan/bulan (Rp)
|
|
|
|
Kapasitas produksi/bulan (Kg)
|
|
|
= Rp………./kg bahan baku
|
||
6. Pengembalian
modal atau POT
Pengembalian modal didefinisikan
sebagai waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kembali modal investasi melalui
keuntungan yang diperoleh, dengan rumus sebagai berikut:
|
|
Total investasi
|
= ………. Bulan
|
|
|
Keuntungan bersih/bulan
|
8. Nilai BC Ratio
Benefit Cost Ratio adalah nilai
perbandingan antara pendapatan dan biaya. Jika B/C > 1 maka perusahaan
memenuhi salah satu kriteria untuk dikatakan layak.
|
B/C Ratio
|
=
|
Pendapatan
|
|
|
Biaya Produksi
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar