Sabtu, 06 Juni 2015

STRATEGI PEMASARAN MANGGA(Mangifera indica L) GEDONG GINCU DI CV. SUMBER BUAH SAE CIREBON JAWA BARAT



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tanaman hortikultura Mangga(Mangifera indicaL) memberikan kontribusi yang cukup besar.Dalam kebutuhan, peningkatan ekspor, peningkatan pendapatan, dan pemenuhan gizi. Salah satu komoditas produk buah mangga  yang menjadi unggulan adalah Mangga Gedong Gincu.Mangga atau Mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam margaMangifera, yang terdiri dari 35 – 40 anggota dan sukuAnacardiaceae.Sebagai buah – buahan yang memberikan kontribusi yang cukup besar mangga memerlukan penanganan khusus sejak dari budidaya sampai dengan pemasaran.Oleh karena itu penerapan sistem agribisnis onfarm dan penanganan pasca panen yang baik sangat diperlukan.Sehingga komoditas buah – buahan khususnya Mangga Gedong Gincu mampu bersaing dengan produk buah – buahan lainnya di Mancanegara.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan buah - buahan, maka usaha pengembangan produksi dalam negeri perlu dilakukan secara khusus dengan menerapkan sistem usaha yang paling menguntungkan. Dalam rangka peningkatan pendapatan, maka proses penanganan lebih lanjut perlu dilakukan secara optimal sebagaimana komoditas tanaman lainnya, khususnya mangga Gedong Gincu yang memiliki prospek pasar yang perlu digarap secara lebih intensif lagi sesuai dengan permintaan pasar. Produksi tanaman mangga menurut Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2012 adalah 2.376.333ton (tabel 1).Dibawa ini merupakan tabel luas panen dan produksi tanaman mangga pada tahun 2012 dari tiap – tiap provinsi di Indonesia.


Table 1. Tanaman Menghasilkan, Luas Panen, Hasil Per Hektar, Hasil Per Pohon dan Produksi Mangga menurut Provinsi tahun 2012.

No

Provinsi
Mangga
Tanaman menghasilkan (pohon)
Luas panen (Ha)
Hasil per pohon (Kg/phn)
Hasil per ha (ton/ha)
Produksi (ton)
1
Jawa Timur
7.654.726
76.547
109,78
10,98
840.316
2
Jawa Tengah
4.400.047
44.000
96,13
9,61
422.992
3
Jawa Barat
2.886.693
28.867
119,24
11,92
344.205
4
Sulawesi Selatan
1.3.81.694
13.817
114,36
11,44
158.006
5
Nusa Tenggara Barat
1.003.771
10.038
137,17
13,72
137.689
6
Nusa Tenggara Timur
721.721
7.217
98,97
9,90
71.429
7
Banten
541.980
5.420
96,29
9,63
52.187
8
DI Yogyakarta
743.741
7.437
56,05
5,61
41.687
9
Bali
525.027
5.250
76,90
7,69
40.372
10
Aceh
205.890
2.059
191,68
19,17
39.465
11
Sumatera Utara
193.506
1.935
183,30
18,33
35.470
12
Lampung
205.381
2.054
105,78
10,58
21.725
13
Sulawesi Tenggara
276.361
2.764
71,76
7,18
19.833
14
Sulawesi Barat
154.397
1.544
128,27
12,83
19.805
15
Sulawesi Tengah
110.021
1.100
166,82
16,69
18.354
16
DKI Jakarta
97.217
972
158,54
15,86
15.413
17
Sumatera Selatan
153.467
1.535
93,14
9,31
14.294
18
Kalimantan Timur
90.194
902
119,46
11,95
10.775
19
Sumatera Barat
38.298
383
226,20
22,62
8.663
20
Riau
74.222
742
98,85
9.89
7.337
21
Bengkulu
36.122
361
174,63
17,47
6.308
22
Kalimantan Selatan
83.644
836
74,20
7,42
6.206
23
Sulawesi Utara
60.698
607
99,26
9,93
6.025
24
Kalimantan Barat
42.470
425
133,62
13,35
5.675
25
Kalimantan Tengah
50.675
507
106,13
10,61
5.378
26
Gorontalo
51.577
516
76,41
7,64
3.941
27
Jambi
26.130
261
149,22
14,94
3.899
28
Kepulauan Riau
30.368
304
127,96
12,78
3.886
29
Kep. Bangka Belitung
30.217
302
120,30
12,04
3.635
30
Maluku Utara
34.589
346
105,00
10,50
3.632
31
Maluku
20.428
204
173,59
17,38
3.546
32
Papua
26.831
268
112,00
11,21
3.005
33
Papua Barat
14.552
146
81,16
8,09
1.181

Indonesia
21.966.654
219.666
108,18
10,82
2.376.333
Sumber: BPS (2013)
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa produksi mangga tertinggi adalah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan masing – masing total produksi adalah 840.316 ton, 422.992 ton dan 344.205 ton. Oleh karena itu upaya budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara intensif dan penanganan pasca panen terus ditingkatkan. Melalui upaya ini diharapkan produksi mangga khususnya Gedong Gincu akan meningkat.
Permintaan pasar akan produk buah – buahan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Seiring dengan bertambahnya populasi penduduk dari tahun ke tahun maka semakin bertambah tingkat kebutuhan akan buah – buahan. Menurut Badan Pusat Statistik(BPS) ekspor buah – buahan segar tahun 2013 adalah sebanyak  246.943,8 ton atau senilai $ 186.604,4 ribu.Agar kebutuhan terhadap buah – buahan terpenuhi harus diimbangi dengan jumlah produksinya.Saat ini produksi dalam negeri khususnya buah mangga tahun 2013 adalah sebanyak 2.192.935 ton dengan luas panen 247.239 ha.
Mangga Gedong Gincu mempunyai keunggulan dibandingkan mangga lainnya karena memiliki aroma lebih tajam, rasa manis segar, dan kulit buah berwarna merah menyala sehingga diminati oleh kelompok konsumen ekonomi menengah ke atas dan konsumen luar negeri. Disebut gedong gincu karena warna kulitnya yang merah – oranye  hampir menyerupai gincu pemerah bibir wanita atau lipstik, serta bentuk buahnya bulat. Masyarakat Majalengka menyebut mangga gedong gincu sebagai mangga seraton atau mangga selera keraton karena tampilan yang memikat dan harganya yang cukup mahal, sehingga mangga gedong gincu dicitrakan sebagai mangga untuk konsumsi kalangan elit.
Mangga Gedong Gincu merupakan kelompok dari mangga gedong.Hal yang membedakan sebutan mangga Gedong dengan mangga Gedong Gincu adalah waktu panennya. Mangga Gedong dipanen pada tingkat kematangan mencapai 60 – 70%, sedangkan mangga gedong gincu dipanen saat buahnya mencapai tingkat kematangan 80 – 85% yaitu saat warna kulit buah masih berwarna hijau tua pada bagian atas ujung dan berwarna merah pada pangkal buah. Saat matang, daging buah mangga gedong akan berwarna kuning jingga, sedangkan daging mangga gedong gincu akan berwarna merah oranye atau kuning kemerahan.
Upaya menyediakan kebutuhan akan buah mangga khususnya Gedong Gincu serta peningkatan pendapatan penjualan buah mangga Gedong Gincu dapat dilakukan dengan upaya peningkatan produktivitas buah mangga. Peningkatan produksi usahatani khususnya mangga Gedong Gincu dapat dilakukan dengan caraoff – season menggunakan Zat Pengatur Tumbuh(ZPT) yang berbahan aktif Paklobutrazol di pasaran memiliki nama dagang diantaranya Patrol, Cultar, Goldstar. ZPT ini berfungsi menghentikan fase vegetatif dan memacu fase generative.http://obortani.com

1.2  Kerangka Pemikiran
Pemasaran buah mangga(Mangifera indicaL) Gedong Gincu  di CV. SUMBER BUAH SAE, Cirebon, Jawa Barat disalurkan kepada konsumen melalui lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran akan melakukan fungsi  pemasaran yang berbeda satu sama lain yang dicirikan oleh aktivitas yang dilakukan. Dengan adanya pemasaran, maka perlu strategi yang dilakukan pada setiap  penjualan sehingga perusahaan akan memperoleh keuntungan dari setiap biaya yang dikeluarkan. Besarnya biaya pemasaran menentukan tingkat harga yang diterima produsen dan lembaga pemasaran.Selain itu Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan – kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.” (Stanton 1986 : 7).
Dari biaya pemasaran dan harga jual akan didapatkan margin keuntungan yang merupakan pengukuran untuk efisiensi pemasaran. Hal ini berarti semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran buah mangga Gedong Gincu maka akan mengakibatkan semakin tinggi harga yang nantinya harus dibayar oleh konsumen akhir.
Mangga Gedong Gincu merupakan salah satu kultivar mangga (Mangifera indica) yang nilai harga buahnya paling tinggi dibandingkan dengan mangga lainnya di Indonesia. Mangga gedong gincu memiliki bentuk pohon tegak dengan ketinggian 9 – 15 m, bercabang banyak, berdaun lebat, letak daun mendatar, permukaan daun sempit berbentuk lancip pada dasarnya dan datar pada pucuknya, bentuk malai bunga lancip berwarna merah (Broto 2003). Buah Mangga ini mempunyai ukuran, bentuk, warna, rasa dan bau yang spesifik (khas) dan sangat menarik. Bentuk buahnya yang agak bulat, berukuran sedang, warna kulit buahnya yang kuning cerah merah keunguan serta daging buahnya yang kuning cerah dengan rasa manis legit disertai bau harum membuat banyak orang terpesona.Jenis Mangga ini telah mampu bersaing bukan saja di tingkat lokal, namun mampu bersaing di pasar Mancanegara.Mangga Gedong ini telah dipasarkan di Amerika, Singapura, Hongkong dan Eropa.
Pohon mangga Gedong Gincu, tingginya mencapai 25 m dengan garis tengah batang 75 cm. Kulit batang coklat abu – abu dan berlekahan. Daun tunggal, berseling, jorong sampai lanset, kaku menyerupai kulit.Daun muda kemerahan. Pembungaan tersusun malai, besarnya bunga kurang  lebih 6 – 8 mm, hijau kekuningan. Warna mangga Gedong Gincu akan semakin sempurna daya tariknya ketika sudah masuk dalam fase matang sempurna, warna kuning kemerahan layaknya warna gincu. Membiarkan mangga Gedong Gincu matang secara alami di pohonnya, membuat rasa manis yang dikandung dan warna yang memikat dari buah ini semakin menunjukan ke cantikannya.Mangga gincu gedong tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut.Curah hujan optimum sekitar 1000 mm per tahun dengan musim kering lebih dari 3 bulan. Suhu udara optimumnya adalah 26 – 280C dan pH tanah yang disukai untuk pertumbuhannya adalah 5,5 – 7. Hal ini disebabkan faktor iklim tersebut memiliki peranan paling besar dalam menentukan kondisi musim di wilayah Indonesia (Suparyono dan Agus Setyono 1994).
Komoditas mangga memiliki arti strategis yang mendapat prioritas dalam pembangunan pertanian sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan. Perkembangan konsumsi  Mangga per kapita dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2013 adalah 0,156 kg dengan laju pertumbuhan rata-rata 13,51% setiap tahunnya (BPS).
Dari sini dapat disimpulkan bahwa, semakin banyak yang terlibat dalam usaha pemasaran mangga khususnya Gedong Gincu maka akan dapat mengakibatkan kenaikan harga yang cukup besar yang akan diterima oleh konsumen akhir.

1.2.1        Diagram Alir Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Diagram alir kerangka pikiran

1.3  Tujuan
Tujuan dari penyusunan proposal ini adalah merupakan salah satu persyaratan dalam melaksanakan penyusunan Tugas Akhir yang dilaksanakan melalui kegiatan Praktek Kerja Lapang di CV. SUMBER BUAH SAE, Cirebon, Jawa Barat yaitu untuk:
1.      Mengetahui strategi pemasaran Mangga Gedong Gincu di CV. SUMBER BUAH SAE, Cirebon, Jawa Barat
2.      Mengetahui analisa finansialMangga Gedong Gincu di CV. SUMBER BUAH SAE, Cirebon, Jawa Barat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Sejarah Tanaman Mangga dan Kerakteristik Mangga Gedong Gincu
2.1.1        Sejarah Tanaman Mangga
Mangga berasal dari Malayalammaanga. Kata ini dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga dan pada pihak lain, kata ini dibawa ke Eropa oleh orang – orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lain – lain. Nama ilmiahnya sendiri mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”. Berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam. Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh.
2.1.2        Kerakteristik Mangga Gedong Gincu
Mangga adalah salah satu jenis tanaman yang sangat populer di indonesia. Rasa buahnya yang manis membuat buah ini menjadi primadona dan disukai oleh hampir seluruh masyarakat. Tanaman yang termasuk kedalam marga Mangifera diduga berasal dari wilayah India yang kemudian meyebar ke wilayah asia tenggara tarmasuk ke wilayah Indonesia dan Malaysia. Adapun mangga yang tumbuh di Indonesia termasuk kedalam jenis Mangifera indica L, seperti mangga golek, manalagi, arum manis, gedong dan jenis Mangifera foetita yaitu kweni dan kemang.
Mangga Gedong Gincu berasal dari daerah cirebon, bentuknya unik, warna kulit serta daging buahnya kuning kemerahan dan tampak mencolok, kulit tipis, bentuk bulat tanpa lekukan, daging tebal dan berserat halus rasanya manis dan aromanya harum. Karena warnanya, mangga Gedong Gincu cukup laku di pasaran luar negeri. Ukuran buahnya tergolong sedang, panjangnya antara 10 – 12 cm dan berat rata-rata 200 g/buah. Mangga Gedong Gincu yang matang dapat tahan selama 5 – 7 hari dalam masa penyimpanan.
Warna mangga Gedong Gincu akan semakin sempurna daya tariknya ketika sudah masuk dalam fase matang sempurna, warna kuning kemerahan layaknya warna gincu. Membiarkan mangga Gedong Gincu matang secara alami di pohonnya, membuat rasa manis yang dikandung dan warna yang memikat dari buah ini semakin menunjukan ke cantikannya.
Mangga Gedong mempunyai kelebihan dibandingkan jenis mangga lainnya yaitu dapat dipanen dalam dua bentuk, pertama bentuk Gedong (tingkat kematangan 60 persen) dan Gedong Gincu (tingkat kematangan di atas 70 persen), dengan perbedaan waktu panen antara 10 sampai 15 hari. Gedong Gincu saat ini mempunyai peluang pasar cukup besar baik pasar domestik maupun pasar ekspor karena buahnya mempunyai aroma sangat tajam, warna buah merah menyala dan mengandung banyak serat.
Karakteristik yang melekat pada Mangga Gedong Gincu adalah produk tersebut umumnya bersifat mudah membusuk dan sulit diangkut dalam jarak jauh dengan tanpa menimbulkan kerusakan dan susut yang besar. Rendahnya kualitas buah mangga tersebut antara lain disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal buah mangga yang mendapat perlakuan kurang cermat selama proses pasca panen. Faktor eksternal antara lain goncangan selama proses transportasi sehingga akan menyababkan buah tersebut memar. Memar merupakan gejala kerusakan buah akibat getaran dan guncangan yang dialami buah selama transportasi. Memar juga disebabkan gesekan antar buah maupun gesekan buah dengan dinding kemasan yang berlangsung selama proses transportasi. Memar akan segera diikuti dengan pembusukan sehingga buah menjadi tidak layak jual.
Faktor internal antara lain laju respirasi dan produksi etilen, dimana buah mangga gedong gincu termasuk dalam buah klimakterik.Gedong Gincuadalah jenis buah mangga yang banyak digemari saat ini.Mangga Gedong Gincu yang mendapat respon positif baik di kalangan domestik maupun internasional, bahkan Mangga Gedong Gincu telah menjadi andalan komoditas ekspor buah Indonesia khususnya di daerah Cirebon.

2.2  Konsep Pemasaran
Konsep Pemasaran dibedakan dengan penjualan.Pemasaran merupakan orientasi manajemen yang beranggapan bahwa tugas utama perusahaan adalah memaksimalkan kepuasan konsumen (consumer satifaction), sedangkan penjualan hanya merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang lebih berorientasi kepada peningkatan volume penjualan yang maksimal.
Konsep Pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (Stanton 1978). Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain konsep pemasaran Mangga Gedong Gincu yaitu:
1.      Identifikasi keinginan konsumen, untuk mengetahuinya diperlukan penelitian yang cermat.
2.      Identifikasi produk yang dipasarkan. Hal ini mendukung pengertian bahwa buat apa produk tersebut dipasarkan.
  1. Identifikasi dan sekaligus menciptakan dan membina konsumen. Yang dimaksud adalah  untuk menciptakan dan membina langganan pada semua segmen terutama segmen pasar, karena konsumen pada segmen pasar tertentu akan menentukan macam dan kualitas barang yang diminta.
Kegiatan pemasaran perusahaan harus juga memberikan kepuasan kepada konsumen jika menginginkan usahanya berjalan terus, atau konsumen mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap perusahaan (Dharmmesta dan Handoko 1982). Perusahaan yang sudah mulai mengenal bahwa pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses usahanya, akan mengetahui adanya cara dan falsafah baru yang terlibat di dalamnya. Cara dan falsafah baru yang dengan disebut "Konsep Pemasaran".
Secara definisi, manajemen pemasaran adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan (Kotler 1980). Sedangkan dalam Wikipedia bahasa Indonesia disubutkan: Pemasaran adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Selanjutnya pengertian pemasaran dalam KBBI (2008:1130)
1.      Proses, cara, tindakan memasarkan suatu barang dagangan.
2.      Perihal menyebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat.
Basu Swasta (2000) dalam buku Manajemen Penjualannya menyebutkan, pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa, ide kepada pasar agar dapat mencapai pasar sasaran. Menurut Djaslim Saladin (2003) Suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang – barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. Dan Pemasaran menurut Philip Kotler (2000) adalah : Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan produk yang bernilai dengan pihak lain.

2.3  Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Pengertian bauran pemasaran menurut Buchari Alma (2007) marketing mix merupakan strategi mencampur kegiatan – kegiatan marketing, agar dicari kombinasi maksimal sehingga mendatangkan hasil yang paling memuaskan.Bauran pemasaran adalah “serangkaian dari variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh perusahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran” (Djaslim Saladin2007).Sedangkan menurut Stanton (1978) Bauran pemasaran (marketing mix) adalah kombinasi dari 4 variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi.


2.3.1        Product (Produk)
Produk menurut Kotler dan Keller (2009) adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan.Produk – produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, acara – acara, orang, tempat, properti, organisasi, dan gagasan. Istilah lain dari produk yaitu seperti penawaran dan pemecahan. Produk atau penawaran dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu barang fisik, jasa, dan pemecahan.Tingkat kepentingan produk fisik lebih tergantung kepada jasa yang mereka berikan daripada kepemilikannya.
Kotler yang dialihbahasakan Benyamin Molan (2007) menyebutkan, pada dasarnya barang dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut daya tahan dan wujudnya, diantaranya adalah :
1.      Barang yang tidak tahan lama (Non durable goods) adalah barang – barang berwujud yang biasanya tetap bertahan walau biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan. Karena barang – barang ini dikonsumsi dengan cepat dan sering di beli, maka strategi yang tepat adalah dengan menyediakannya di berbagai lokasi, selain itu tipe barang seperti ini hanya membutuhkan marjin yang kecil, dan memasang iklan besar – besaran untuk memancing orang mencobanya dan membangun preferensi.
2.      Barang tahan lama (durable goods) adalah barang berwujud yang biasanya tetap digunakan walaupun sudah digunakan berkali – kali. Produk tahan lama biasanya memerlukan penjualan dan pelayanan yang lebih pribadi, mempunyai marjin yang lebih tinggi dan memerlukan lebih banyak garansi dari penjual.
3.      Jasa (service) adalah produk – produk yang tidak berwujud tidak terpisahkan, dan mudah habis. Akibatnya produk ini biasanya memerlukan pengendalian mutu, kredibilitas pemasok, dan kemampuan penyesuaian lebih tinggi.
Menurut Nasution (2004), Kecocokan dalam menggunakan suatu produk adalah apabila produk mempunyai daya tahan penggunaannya yang lama, produk yang digunakan akan meningkatkan citra atau status konsumen yang menggunakannya, produk tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas (quality assurance) dan sesuai etika bila digunakan.
A.    Kualitas Produk
Produsen memahami begitu pentingnya peranan dan arti kualitas produk yang unggul untuk memenuhi harapan pelanggan pada semua  aspek produk yang dijual ke pasar. Para petinggi atau manajemen puncak perusahaan juga umumya semakin menyadari dan mempercayai adanya keterhubungan langsung antara kualitas produk terhadap customer satisfaction (kepuasan pelanggan) yang pada akhirnya akan meningkatkan raihan pangsa pasar (market share) di pasar sasaran. Keberadaan kepuasan pelanggan pada perusahaan merupakan sebuah variabel yang sangat penting dan menentukan keberhasilan sutu perusahaan.Salah satu tolak ukurnya adalah kualitas. Sebaliknya produk dengan level indeks kepuasan rendah, pertumbuhan penjualannya cenderung minus. Merancang dan mengembangkan produk dengan fokus pada keinginan dan kepuasan pelanggan merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar – tawar.
Menurut Kotler yang dialihbahasakan oleh Muhtosin Arif (2006), arti kata kualitas dalam The American Society for Quality Control diartikan sebagai totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang memiliki kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun implisit. Hal ini berarti fitur produk yang ditawarkan juga menentukan mutu yang akan mempengaruhi kepuasan konsumen. Produsen dikatakan telah menyampaikan mutu jika produk atau yang ditawarkannya sesuai atau melampaui ekspektasi pelanggan.
Sementara dalam mendifinisikan kualitas produk para ahli dalam manajemen mutu terpadu (total quality management) mengungkapkan pengertiannya yang saling berbeda pendapat tetapi dari perbedaan tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang sama, adapun beberapa definisi yang dikemukakan diantaranya adalah:
Pengertian kualitas produk menurut Juran, (2004), kualitas produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan penggunaan itu didasarkan atas lima ciri utama, yaitu:
a.       Teknologi, yaitu kekuatan atau daya tahan
b.      Psikologis, yaitu citra rasa atau status
c.       Waktu, yaitu kehandalan
d.      Kontraktual, yaitu adanya jaminan
e.       Etika, yaitu sopan santun, ramah dan jujur
Menurut Nasution (2004), Kecocokan dalam menggunakan suatu produk adalah apabila produk mempunyai daya tahan penggunaannya yang lama, produk yang digunakan akan meningkatkan citra atau status konsumen yang menggunakannya, produk tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas (quality assurance) dan sesuai etika bila digunakan.
Kecocokan penggunaan produk seperti dikemukakan di atas memiliki dua aspek utama, yaitu ciri – ciri produknya memenuhi tuntutan penggunaan dan tidak memiliki kelemahan. Adapun aspek tersebut diantaranya adalah:
1.      Ciri-ciri produk yang memenuhi permintaan pelanggan
Produk berkualitas, memiliki ciri yang khusus atau istimewa, berbeda dari produk pesaing dan dapat memenuhi harapan atau tuntutan sehingga dapat memuaskan pelanggan.Kualitas yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan meningkatkan kepuasan pelanggan, membuat produk laku terjual, dapat bersaing dengan pesaing, meningkatkan pangsa pasar dan volume penjualan serta dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.
2.      Bebas dari kelemahan
Suatu produk dapat dikatakan berkualitas tinggi apabila di dalam suatu produk serta unsur yang terdapat didalamnya tidak terdapat kelemahan, tidak terdapat cacat sedikitpun. Kualitas yang tinggi menyebabkan perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi pengerjaan kembali dan pemborosan, mengurangi pembiayaan terhadap klaim garansi, mengurangi ketidakpuasan pelanggan, mengurangi inspeksi dan pengujian, mengurangi waktu pengiriman produk ke pasar, meningkatkan hasil (yield) dan meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta memperbaiki kinerja penyampaian produk.
Crosby, dalam Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang diisyaratkan atau di standarkan.Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan.Standar  kualitas meliputi bahan baku, proses produksi, dan produk jadi.
Deming, dalam Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar.Apabila Juran mendefinisikan kualitas sebagai fitness for use dan Crosby sebagai conformance to requirement, deming mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Perusahaan harus benar – benar dapat memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen atas suatu produk yang akan dihasilkan.
Feigenbaum, dalam M. Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Suatu produk berkualitas apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapakan konsumen atas suatu produk.
Garvin dan Davis, dalam Nasution (2004), menyatakan bahwa kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.
Meskipun tidak ada definisi kualitas yang diterima secara universal, namun pengertian kualitas di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu sebagai berikut:
a.       Kuallitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
b.      Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah
Setelah melihat definisi di atas, maka kualitasproduk mengacu pada bagaimana produk tersebut menjalankan fungsinya yang mencakup keseluruhan dari produk, yaitu berupa ketahanan, kehandalan, ketepatan, kemudahan dalam pengoperasian, dan kemudahan dalam perbaikan serta atribut – atribut nilai lainnya. Penetapan kualitas merupakan salah satu cara untuk memenangkan persaingan di pasar, karena mutu merupakan salah satu cara penempatan suatu produk di benak pelanggan.
2.3.2        Price (Harga)
Definisi harga menurut Philip Kotler adalah : “price is the amount of money charged for a product or service. More broadly, price is the sum of all the value that consumers exchange for the benefits of having or using the product or service”. Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa.Secara lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk atau jasa.
Sedangkan Stanton mendefinisikan harga: “Price is the amount of money and or goods needed to acquire some combination of another goods and its companying services”. Harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi dari barang yang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Harga merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu – satunya elemen yang menghasilkan pendapatan dari penjualan.
Perusahaan menetapkan suatu harga dengan melakukan pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi satu atau lebih diantara tiga perangkat perimbangan berikut ini yakni:
1.      Cost – Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya)
a)      Cost – Plus – Pricing (Penetapan harga biaya plus)
Metode ini merupakan metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk.
b)      Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran)
Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even atau membuat target laba yang akan dicari.


2.      Value – Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai)
Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga.
3.      Competition – Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan persaingan)
a)      Going – rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku)
Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dan pesaing utamanya.
b)      Scaled – Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup)
Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan.

2.3.3        Place (Tempat atau distribusi)
Menurut Philip Kotler mengenai distribusi adalah : “The various the company undertakes to make the product accessible and available to target customer”. Berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah diperoleh dan tersedia untuk konsumen sasaran.
Keputusan penentuan lokasi dan saluran yang digunakan untuk memberikan jasa kepada pelanggan melibatkan pemikiran tentang bagaimana cara mengirimkan atau menyampaikan jasa kepada pelanggan dan dimana hal tersebut akan dilakukan. Ini harus dipertimbangkan karena dalam bidang jasa sering kali tidak dapat ditentukan tempat dimana akan diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Saluran distribusi dapat dilihat sebagai kumpulan organisasi yang saling bergantungan satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan sebuah produk/pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Penyampaian dalam perusahaan jasa harus dapat mencari agen dan lokasi untuk menjangkau populasi yang tersebar luas.
Sebagai salah satu variabel marketing mix, place / distribusi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu perusahaan memastikan produknya, karena tujuan dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.
2.3.4        Promotion (Promosi)
Merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan dengan tujuan utama untuk menginformasikan, membujuk, mempengaruhi dan mengingatkan konsumen agar membeli produk dari perusahaan.Dalam hal ini keputusan – Keputusan yang diambil mencakup iklan, penjualan personal, promosi penjualan, dan publikasi.Menurut Philip Kotler promotion tools didefinisikan sebagai berikut :
1.      Advertising (Periklanan)
Suatu promosi barang atau jasa yang sifatnya non personal dilakukan oleh sponsor yang diketahui.
2.      Personal selling (Penjualan perorangan)
Penjualan perorangan yang dilakukan oleh para wiraniaga yang mencoba dan membujuk untuk melakukan penjualan sekaligus.
3.      Sales promotion (Promosi penjualan)
Suatu kegiatan yang dimaksud untuk membantu mendapatkan konsumen yang bersedia membeli produk atau jasa suatu perusahaan.
4.      Public relation (Publisitas)
Suatu kegiatan pengiklanan secara tidak langsung dimana produk atau jasa suatu perusahaan disebarluaskan oleh media komunikasi.

2.4  Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok – kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang  mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses identifikasi dan analisis para pembeli di pasar produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar. Ada beberapa definisi dari segmentasi pasar menurut para ahli, yaitu:
1.      Swastha dan Handoko (1997)
Mengartikan segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi – bagi pasar/market yang bersifat heterogen kedalam satuan – satuan pasar yang bersifat homogen.
2.      Pride dan Ferrel (1995)
Mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen – segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli.
3.      Kotler, Bowen dan Makens (2002)
Pasarterdiri dari pembeli dan pembeli berbeda – beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena masing – masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing – masing pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing – masing pembeli. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar – benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas – kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda – beda.
4.      Kotler
Segmentasi pasar, yaitu usaha pemisahan pasar pada kelompok – kelompok pembeli menurut jenis – jenis produk tertentu dan yang memerlukan bauran pemasaran tersendiri. Perusahaan menetapkan berbagai cara yang berbeda dalam memisahkan pasar tersebut, kemudian mengembangkan profil – profil yang ada pada setiap segmen pasar, dan menilai daya tarik masing – masing segmen – segmen pasar.
5.      Hermawan Kertajaya
Segmentasi pasar adalah sebuah metode bagaimana memandang pasar secara kreatif. Kita perlu secara kreatif mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang yang muncul dipasar.Dasar – dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen adalah:

2.4.1        Segmentasi geografi
Variabel tersebut, antara lain: wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim. Segmentasi geografi akan membagi pasar  ke dalam beberapa bagian geografi yang berbeda beda seperti negara, negara bagian, wilayah, kota, dan desa. Perusahaan akan beroperasi pada satu atau beberapa area geografi yang dipandang potensial dan menguntungkan.
2.4.2        Segmentasi demografi
Variabel tersebut, antara lain: umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan, dan lain - lain. Dalam segmentasi demografi, pasar dibagi menjadi grup grup dengan dasar pembagian seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendekatan, tingkat pendidikan, dan agama. Setidaknya beberapa alasan mengapa pendekatan demografi hampir selalu disertakan, antara lain adalah informasi demografi adalah informasi yang mudah dijangkau dan relatif lebih murah untuk mengidentifikasikan target market, informasi demografi memberikan insight tentang trend yang sedang terjadi, meski tidak dapat untuk meramalkan perilaku konsumen, demografi dapat dilihat untuk melihat perubahan permintaan aneka produk dan yang terakhir demografi dapat digunakan untuk mengevaluasi kampanye kampanye pemasaran.
2.4.3        Segmentasi psikologis
Variabel tersebut, antara lain: kelas sosial, gaya hidup, kepribadian, manfaat yang dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada produk. Ciri ciri psikologis berkenaan dengan inner atau kualitas intrinsic dari consumer individual.Strategi segmentasi konsumen kadang kadang didasarkan pada variabel psikologis yang spesifik.Konsumen dapat dibagi menurut demografi tetapi seringkali ini tidaklah cukup. Perusahaan ingin tahu lebih jauh apa sebenarnya yang membuat orangorang yang memiliki usia, penghasilan, pendapatan dan pendidikan yang sama berbeda dalam merespon suatu stimuli pemasaran. Dalam segmentasi psikografis, perilaku konsumen diobservasi melalui kelas sosial (social class), gaya hidup (lifestyle), nilai nilai kehidupan yang dianut (value) dan kepribadian (personality). Menurut Philip Kotler (1997) tentang Kepuasan Konsumen, yaitu perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapannya.
2.4.4        Manfaat dan kelemahan Segmentasi
Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991). Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1.      Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan – kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2.      Dapat mendesign produk yang benar – benar sesuai dengan permintaan pasar.
3.      Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4.      Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5.      Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode – periode dimana reaksi pasar cukup besar.
Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
a)      Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
b)      Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing – masing segmen.
c)      Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
d)     Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.
Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan – kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:
1.      Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2.      Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
3.      Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
4.      Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.

2.5  Targeting (Target Pasar)
Targeting adalah proses penyeleksian produk, baik barang maupun jasa atau pelayanan terbaik sehingga benar – benarberada pada posisi yang terbaik guna mencapai keberhasilan. Setelah perusahaan mengidetifikasikan peluang segmen  pasar, selanjutnya adalah mengevaluasi beragam segmen tersebut untuk memutuskan segmen mana yang menjadi target market.Targeting adalah kumpulan pembeli dengan kebutuhan atau karateristik serupa yang akan dilayani oleh perusahaan (Kotler dan Armstrong 1997). Pasar sasaran merupakan keputusan perusahaan mengenai segmen atau pasar manakah yang akan dilayani (Swastha dan Irawan 1990).
Menurut Gitosudarmo (1999) pada dasarnya ada tiga jenis strategi pemasaran dalam pasar sasaran, yaitu:
a.       Strategi satu sasaran (single target). Dalam hal ini perusahaan memilih salah satu segmen yang dipandang paling potensial dan kemudian dijadikannya sebagai sasaran atau target untuk dilayaninya dengan marketingmixnya. Strategi ini disebut concentrated marketing.
b.      Strategi sasaran ganda (multy targets). Disini perusahaan memiliki dua atau beberapa bahkan mungkin semua segmen untuk dilayaninya tetapi dengan cara pelayanan atau strategi marketing mix yang berbeda terhadap segmen yang berbeda. Jadi dalam hal ini perusahaan melakukan strategi yang berbeda terhadap segmen yang berbeda. Strategi ini sering disebut sebagai differentiatedmarketing.
c.       Strategi kombinasi sasaran (combine targets). Dalam hal ini perusahaan mengkombinasikan atau menyatukan beberapa segmen menjadi satu segmen menjadi satu segmenyang lebih luas sebagai sasarannya dan kemudian mengaturstrategi untuk segmen pasar yang luas tersebut. Strategi inisering disebut sebagai undifferentiated marketing.

2.6  Positioning (Posisi Pasar )
Positioning adalah tindakan perusahaan untuk merancang produk dan bauran pemasaran agar dapat tercipta kesan tertentu diingatan konsumen. Sehingga dengan demikian konsumen segmen memahami dan menghargai apa yang dilakukan perusahaan dalam kaitannya dengan para pesaingnya.Positioning adalah cara produk, merek atau organisasi perusahaan dipersepsikan secara relatif dibandingkan dengan para pesaing oleh pelanggan saat ini maupun calon pelanggan (Tjiptono 2007). Positioning adalah mengembangkan bauran pemasaran spesifik untuk mempengaruhi keseluruhan persepsi pelanggan pelanggan potensial terhadap merek, lini produk, atau organisasi secara umum (Lamb, Hair, Mc Daniel 2001).
A.    Langkah – Langkah Positioning
Menurut Kotler dalam Lupiyoadi (2001), setidaknya ada tiga langkah dalam melakukan positioning, yakni :
a.       Mengenali keunggulan–keunggulanyang mungkin dapat ditampilkan dalam hubungan dengan pesaing.
b.      Memilih keunggulan–keunggulanyang paling kuat/menonjol.
c.       Menyampaikan keunggulan itu secara efektif kepada target pasar.



B.     Kriteria Positioning
Tidak semua keunggulan merupakan indikator yang biasa ditampilkan ke pasar, tetapi harus diseleksi. Menurut Kotler dalam Lupiyoadi (2001), sebuah keunggulan yang patut ditampilkan harus memenuhi kriteria :
a.       Penting. Keunggulan itu harus merupakan kemampuan yang dianggap sangat penting oleh cukup banyak pembeli.
b.      Berbeda. Belum ada pesaing yang menawarkan/memposisikan keunggulan itu atau mereka sudah ada yang menawarkannya namun masih dengan cara yang lebih umum.
c.       Unggul (superior). Keunggulan itu lebih baik disbanding yang dimiliki produk atau jasa lainnya yang dimiliki pesaing.
d.      Dapat dikomunikasikan. Keunggulan itu dapat dikomunikasikan dan menjadi perhatian pembeli atau calon pembeli.
e.       Pelopor. Pesaing sulit meniru keunggulan yang dimiliki tersebut.
f.       Harga terjangkau. Pembeli mampu membayar biaya keunggulan yang ditambahkan dalam produk tersebut.
g.      Menguntungkan. Perusahaan dapat memperoleh laba dari pemberian keunggulan tersebut.

2.7  Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah instrumen yang digunakan untuk melakukan analisis strategis.  Menurut Robert Simbolon,  (1999), analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama dengan melakukan analisis atas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal.  Dalam lingkungan internal dan eksternal ini pada dasarnya terdapat empat unsur yang selalu dimiliki dan dihadapi, yaitu secara internal memiliki sejumlah kekuatan – kekuatan (strengths) dan kelemahan – kelemahan (weaknesses), dan secara eksternal akan berhadapan dengan berbagai peluang – peluang (oppotunities) dan ancaman – ancaman (threats). Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis SWOT adalah memahami seluruh informasi dalam suatu kasus, menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan utuk memecahkan masalah (Freddy Rangkuti 2001).
SWOT adalah akronim untuk kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dari lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005), SWOT digunakan untuk menilai kekuatan – kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan – tantangan yang dihadapi.
Menurut David (Fred R. David 2008), Semua organisasi memiliki kekuatan dan kelemahan dalam area fungsional bisnis. Tidak ada perusahaan yang sama kuatnya atau lemahnya dalam semua area bisnis. Kekuatan atau kelemahan internal, digabungkan dengan peluang atau ancaman dari eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan strategi.Tujuan dan strategi ditetapkan dengan maksud memanfaatkan kekuatan internal dan mengatasi kelemahan.  Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT (David Fred R. 2005 ) yaitu :
1.      Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan – keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar.
2.      Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut dapat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat merupakan sumber dari kelemahan perusahaan.
3.      Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasok merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.
4.      Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan – peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.

2.7.1        Fungsi SWOT
Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari Analisis SWOT adalah untuk mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan eksternal (peluang dan ancaman). Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk memenuhi pemasukan yang diinginkan. Analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan analisis dalam usaha penetapan strategi. Umumnya yang sering digunakan adalah sebagai kerangka sistematis dalam diskusi untuk membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.
2.7.2        Matriks SWOT
Menurut Rangkuti (2006), Matriks SWOT dapatmenggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dankelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif strategis.
Dari keterangan dari matriks SWOT tersebut yang berdasakan faktor internal dan eksternal, perusahaan akan lebih mudah dalam menentukan strategi yang akan digunakan untuk memenangkan persaingan adalah sebagai berikut:
1.      Strategi SO  (Strength and Oppurtunity). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
2.      Strategi ST (Strength and Threats). Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
3.      Strategi WO (Weakness and Oppurtunity). Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
4.      Strategi WT (Weakness and Threats). Strategi ini berdasarkan kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.


BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

3.1  Tempat dan Waktu
Pelaksanaan Praktik  Kerja Lapangan (PKL)  tentang Strategi Pemasaran Mangga(Mangifera indica L) Gedong Gincu Di CV. Sumber Buah Sae Cirebon Jawa Barat, akan dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2015. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara praktek lapang yang bertempat di kantor CV. Sumber Buah Sae Cirebon Jawa Barat, untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder.

3.2  Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang diperlukan dalam praktek lapang ini yaitu data primer dan data sekunder.Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara:
3.2.1        Data Primer
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara).
Data primer ini ada dua yaitu :
1.      Data umum perusahaan
Data umum perusahaan ini berupa data mengenai sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi, kedudukan, tugas dan fungsi serta fasilitas yang dimiliki perusahaan.
2.      Data khusus perusahaan. Data khusus perusahaan ini berupa data penjualan, data yang berkaitan dengan penentuan harga dan data laporan pendapatan dan biaya.
3.      Studi lapangan adalah pengumpulan data dengan mengadakan praktek langsung ke sasaran praktek yaitu ke perusahaan. praktek dilakukan dengan wawancara dan observasi. Dalam hal ini studi lapangan dilakukan secara langsung di CV. Sumber Buah Sae Cirebon. Pemilihan lokasi ini didasarkan karena keterjangkauan lokasi oleh penulis. Studi lapangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data mengenai strategi pemasaran Mangga Gedong Gincu

3.2.2        Data  Sekunder
Dalam pengumpulan data sekunder ini dilakukan melalui studi pustaka dan studi lapangan.
1.      Studi pustaka adalah pengumpulan data dengan menggunakan literatur – literatur dan buku – buku kuliah maupun artikel baik dari majalah, jurnal, maupun surat kabar. Dari penulisan ini penulis memperolehnya melalui media elektronik (internet) maupun media cetak.
2.      Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mencatat langsung dokumen – dokumen instansi yang tersedia.

3.3        Metode Analisis Data
3.3.1        Analisa Biaya dan Pendapatan
a.      Biaya tetap (Fixed Cost)
Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contonya biaya penyusutan alat (Mulyadi 2009).
Rumus :
Biaya Tetap = Peyusutan alat + Transportasi + Upa Tenaga Kerja

b.      Biaya tidak tetap (Variabel Cost)
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja  dan bahan penunjang lainnya (Mulyadi 2009).
Rumus  :
Total biaya produksi = Biaya Tetap produksi + Biaya tidak tetap produksi


c.       Penerimaan
Rumus :
Total Hasil Produksi  = hasil produksi × Harga jual

d.      Keuntungan
Rumus:
Total keuntungan : Pendapatan – Total biaya produksi

3.3.2        BEP (Break Even Point)
Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan perusahaan dimana dengan keadaan tersebut perusahaan tidak mengalami kerugian juga perusahaan tidak mendapatkan laba sehingga terjadi keseimbangan atau impas. hal ini bisa terjadi bila perusahaan dalam pengoperasiannya menggunakan biaya tetap dan volume penjualannya hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variable (Syarifuddin Alwi 1990 : 239). Volume penjualan di mana penghasilannya (revenue) tepat sama besarnya dengan biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mendapatkan keuntungan atau menderita kerugian dinamakan Break Even Point (Bambang Riyanto, 1995).
a.       BEP Volume Produksi       
Rumus:

Total biaya produksi

Harga jual

b.      BEP Harga Produksi
Rumus:

Total biaya produksi

Total produksi


3.3.3        B/C Ratio (Benefit Cost Ratio)
B/C Ratio perbandingan antara ekivalensi nilai dari manfaat yang  terkandung pada suatu usaha (Mulyadi 2001). Rumus perhitungan B/C Ratio adalah sebagai berikut :

B/C Ratio =
Pendapatan

Total biaya produksi


Kriteria penilaian B/C Ratio :
·         B/C Ratio  < 1 =  usaha tersebut mengalami kerugian
·         B/C Ratio > 1  = usaha tersebut memperoleh keuntungan
·         B/C Ratio = 1  = usaha tersebut mencapai titik impas

3.4      Analisis SWOT
SWOT adalah akronim untuk kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dari lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005), SWOT digunakan untuk menilai kekuatan – kekuatandan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan – tantangan yang dihadapi.
Menurut David (Fred R. David 2008), Semua organisasi memiliki kekuatan dan kelemahan dalam area fungsional bisnis. Tidak ada perusahaan yang sama kuatnya atau lemahnya dalam semua area bisnis. Kekuatan atau kelemahan internal, digabungkan dengan peluang atau ancaman dari eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan strategi.Tujuan dan strategi ditetapkan dengan maksud memanfaatkan kekuatan internal dan mengatasi kelemahan.Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT (David Fred R. 2005 ) yaitu :


1.      Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan – keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar.

2.      Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut dapat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat merupakan sumber dari kelemahan perusahaan.

3.      Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasok merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.

4.      Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan – peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.

3.4.1        Matriks SWOT
Menurut Rangkuti (2006), Matriks SWOT dapatmenggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternalyang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dankelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif strategis.Berikut adalah tabel matrik SWOT menurut Rangkuti (2006) dibawah ini.

Table 2. Matrik SWOT.
IFAS

EFAS
Kekuatan (strength)
Kelemahan (weakness)
Peluang (Opportunity)
Strategi SO
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk menafaatkan peluang
Strategi WO
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk menafaatkan peluang
Ancaman (Threats)
Strategi ST
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi WT
Ciptakan strategi yang meminimalakan kelemahan dan  menghidari ancaman


Dari gambar keterangan dari matriks SWOT diatas, perusahaan akan lebih mudah dalam menentukan strategi yang akan untuk memenangkan persaingan adalah sebagai berikut:
1.      Strategi SO  (Strength and Oppurtunity). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
2.      Strategi ST (Strength and Threats). Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
3.      Strategi WO (Weakness and Oppurtunity). Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
4.      Strategi WT (Weakness and Threats). Strategi ini berdasarkan kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

DAFTAR PUSTAKA

Ade Supriatna. jurnal.Analisis Pemasaran Mangga Gedong Gincu. Sunday, ‎February ‎15, ‎2015
Ade Supriatna. new.iaard.go.id/artikel/one/98/pdf/Budidaya dan Prospek Pemasaran Mangga Gedong Gincu.pdf  Sunday, ‎February ‎15, ‎2015
Anonim.https://elqorni.wordpress.com/2008/05/03/konsep-pemasaran-dan-penjualan/Friday, ‎February ‎20, ‎2015
David, Fred R. 2006. Manajemen Strategis. Penerbit Salemba Empat, Jakarta
Anonim.http://bps.go.id/menutab tabel subyek.Tuesday, ‎February ‎03, ‎2015
Anonim.http://pengertian bauran pemasaran menurut pendapat para ahli.Tuesday, ‎January ‎27, ‎2015
Anonim.idei.or.id/jurnal/2010 Hendri Sukotjo dan Sumanto Radix A.pdf.Tuesday, ‎January ‎27, ‎2015
Anonim.jurnal.unikom.ac.id/_s/data/jurnal/v06-n02/vol-6-artikel-12.pdf/pdf/vol-6-artikel-12.pdf Tuesday, ‎January ‎27, ‎2015
Nurul Sumiasri, Jitno Rijadi, Dody Priadi. Variasi Jenis dan Kultivar Mangga di Madiun dan Sekitarnya; Pengembangan dan Permasalahannya.Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911. Sunday, ‎February ‎15, ‎2015
Octavianti Paramita. Pengaruh Memar terhadap Perubahan Pola Respirasi, Produksi Etilen dan Jaringan Buah Mangga (Mangifera Indica L) Var Gedong Gincu pada Berbagai Suhu Penyimpanan.Sunday, ‎February ‎15, ‎2015
Rangkuti, Freddy (2006).Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pusaka Utama, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar